Langgur, LanggurNews.com – Mulai Rabu (5/3/2025), Gereja Katolik memasuki masa prapaskah. Dalam ritus Gereja Katolik Roma, masa Prapaskah dimulai dengan perayaan Rabu Abu.
Berikut ini pesan Gembala Prapaskah 2025 dari Uskup Diosis Amboina Mgr. Seno Ngutra :
Segenap umat Keuskupan Amboina yang terkasih,
Masa puasa atau prapaskah dalam Gereja Katolik selalu menjadi moment berahmat bagi kita, bukan hanya karena kita akan menjalani salah satu tuntutan Gereja, melainkan fokus pada belas kasih Allah yang mau mengampuni kita sekalipun pelanggaran dan dosa kita melukai hati-Nya.
Maka hari Rabu, 05 Maret 2025, kita umat Katolik seluruh dunia, termasuk di Keuskupan Amboina, memasuki masa penuh rahmat yakni Masa Puasa atau Masa Prapaskah. Masa berahmat ini hendaknya diisi dengan sesal yang tulus, tobat yang sejati dan niat yang kuat untuk menghasilkan buah-buah kebaikan dalam kehidupan bersama dengan sesama.
Dalam menjalankan Masa Puasa atau Masa Prapaskah ini, kita dibantu oleh tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) Keuskupan Amboina 2025 yakni: “Berjalan Bersama menuju Gereja Mandiri dalam Liturgi.”
Liturgi Suci adalah bagian penting dalam imam dan perayaan Gereja, yang di dalamnya kita merayakan dua aspek penting, yakni; “Pengudusan manusia oleh Allah dan tindakan memuliakan Allah oleh manusia.”
Tema ini dijadikan sebagai wujud dari dua moment bersama baik dalam Gereja Katolik Universal, yakni merayakan Yubileum Ordinari dengan tema ”Peziarah Pengharapan,” maupun Gereja Lokal Keuskupan Amboina yang akan merayakan Yubileum 125 Tahun berdirinya sejak tahun 1902 dengan mengusung tema: “Gereja Katolik Keuskupan Amboina Berziarah dalam Pengharapan Menuju Gereja Mandiri.
Realitas Kita Saat ini : Ketika Tuhan Mulai Dilupakan
Dunia dikagetkan dengan kebakaran hutan terbesar di Amerika pada tanggal 7 Januari 2025, terhitung dua hari setelah pameran kesombongan manusia yang menghina Allah dan mengolok-olok Gereja Katolik (Paus) dalam sebuah perayaan besar “Globes Award.”
Allah disingkirkan dari kehidupan dan kemajuan teknologi hanya karena manusia merasa bahwa mereka dapat menggapai semua impian tanpa bukti campur tangan Allah.
Selain itu, di belahan dunia yang lain, terus menerus terjadi perlombaan senjata dan perebutan sumber daerah kekuasaan, sumber alam dan perluasaan kekuasaan yang berujung dalam perang yang berkepanjangan yang mengorbankan ribuan jiwa manusia yang tak berdosa.
Semua realitas ini membuat kita bertanya diri: “Apa yang salah dengan diri kita sebagai manusia?” Dunia ini sedang “tidak baik-baik saja” akibat dari ulah kita manusia, yang menyingkirkan Allah yang berujung pada penghancuran manusia di balik gerakan sekularisasi dan sikap mengagungkan secara berlebihan kecanggihan teknologi.
Bertobat : Sebuah Gerakan Radikal Kembali Kepada Allah
Dunia yang semakin memprihatinkan seperti yang digambarkan di atas, hendaknya membuat kita sadar bahwa kesalahan bukan terjadi di luar diri kita atau disebabkan oleh orang lain, melainkan oleh ulah dan pola tingkah laku kita sendiri sebagai manusia.
Demi memaknai masa prapaskah tahun ini, yang berbarengan dengan perayaan Jubileum Ordinari serta menyongsong perayaan Jubileum ke 125 Tahun Keuskupan Amboina Tahun 2027, maka selaku Uskup Keuskupan Amboina, saya mengajak seluruh umat untuk melakukan pertobatan yang sejati.
Pertobatan itu harus diisi dengan gerakan radikal untuk memperbaharui diri dan hati sebagai jalan untuk melestarikan bumi ini sebagai tempat hunian bersama.
Gerak pertobatan ini harus fokus pada kesadaran bahwa Allah itu sangat berbelas kasih ketika kita mau bertobat, namun Ia juga bisa menjadi Allah Maha Adil bila kita tetap berkeras hati. Di sinilah kita menemukan keindahan ajakan Yesus dalam devosi kerahiman Ilahi: Sebelum Aku datang dengan pedang keadilan atau dengan kata lain, Kerahiman-Ku tidak menghendaki hal ini, tetapi keadilan menuntutnya. (Catatan harian, no. 20 )
Karena itu, gerakan pertobatan di masa prapaskah ini harus diwujudkan dalam bentuk: Doa, ziarah ke pintu suci dan tempat suci lainya, pengakuan dosa dan tindakan berbagi kepada sesama yang memerlukan. Semua bentuk tobat ini harus diatur mulai dari tingkatan Keuskupan, sampai rukun-rukun di semua paroki dan stasi, baik kelompok maupun pribadi sehingga gerak jalan bersama tidak hanya sebagai sebuah slogan belaka, melainkan mendapatkan wujudnya.
Merayakan Keagungan Allah Lewat Liturgi
Kepada semua pelayan liturgi khususnya para Imam yang adalah Alter Christi, saya selalu mendorong dan memotivasi mereka untuk merayakan liturgi dengan penuh penghayatan, karena di dalam dan melalui liturgilah semua karya keagungan Allah sebagai Pencipta, Yesus sebagai Penyelamat dan Roh Kudus sebagai Penggerak kita rasakan dan alami. Liturgi yang dirayakan dengan penuh keindahan dan penghayatan akan membantu semua yang mengikutinya untuk merasakan kehadiran Allah yang nyata, teristimewa ketika Ekaristi dirayakan.
Scott Hahn, penulis buku terkenal Roma Adalah Rumahku, (Rome Sweet Home) setelah perpindahannya ke dalam Gereja Katolik pernah mengatakan dalam pengajarannya; Ekaristi adalah perayaan Surgawi yang dirayakan di dunia, dan Anda hanya menemukannya di dalam Gereja Katolik. Kata-kata ini terinspirasi dariInjil Yohanes: Akulah roti yang telah turun dari surga. Jika seorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” ( Yoh. 6 : 51 ).
Akhirnya kepada segenap umat Keuskupan Amboina, saya ucapkan selamat menjalankan Masa Puasa atau Masa Prapaskah. Buktikanlah pertobatan kita dengan mengambil bagian dalam Aksi Puasa Pembangunan (APP).
Peraturan-Peraturan Pantang dan Puasa
Masa Prapaskah atau waktu Puasa dan Pantang tahun 2025 ini dimulai pada hari Rabu Abu tanggal 5 Maret 2025 sampai pada hari Jumat Agung tanggal 18 April 2025. Khusus untuk hari Jumat Agung harus dijadikan hari doa dan retret umat dengan merenungkan 7 Perkataan Terakhir Yesus dari jam 08.00 – 14.00
Dalam masa ini, Gereja mengajak umatnya untuk bertobat dan melakukan perbuatan matiraga. Dan yang lebih penting lagi yakni umat melakukan perbuatan amal bagi sesama, hidup rukun dan damai serta memakai lebih banyak waktu untuk berdoa.
Di samping itu, sebagai tanda pertobatan bersama, Gereja meminta supaya umat juga mentaati peraturan-peraturan pantang dan puasa sebagai berikut:
- Pantang dan Puasa pada hari Rabu Abu 5 Maret 2025 dan Jumat Agung 18 April 2025.
- Yang diwajibkan berpuasa adalah semua umat yang telah berumur genap 18 tahun sampai dengan 59 tahun.
- Puasa artinya makan kenyang satu kali dalam sehari.
- Yang diwajibkan berpantang adalah umat yang telah berumur genap 14 tahun ke atas.
- Pantang artinya tidak boleh makan daging, atau ikan.
Editor : geraLdo






































































































