Langgur, LanggurNews.com – Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) miliki dua sektor unggulan (leading sector) yakni pariwisata serta kelautan dan perikanan.
Selain itu, kabupaten yang dijuluki Bumi Larvul Ngabal ini juga memiliki sejumlah ohoi (desa) yang berstatus Desa Wisata.
Salah satu destinasi yang kini mulai dilirik wisatawan regional hingga internasional yakni Desa Wisata Letvuan Paradise.
Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno pun telah mengumumkan 50 besar ADWI 2024 pada tanggal 26 Mei lalu, dimana Desa Wisata Letvuan Paradise termasuk di dalamnya.
Desa yang masuk dalam 50 besar tersebut terdiri dari empat klasifikasi desa wisata, yakni Rintisan, Berkembang, Maju, dan Mandiri.
“Desa Wisata Letvuan Paradise masuk dalam kategori desa wisata Berkembang,” kata Ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Letvuan Paradise, Markus Arysto Kalkoy di Langgur, Senin (5/8/2024).
Ohoi Letvuan memiliki sejumlah pesona wisata yang merupakan karya agung sang pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Salah satunya adalah pesona alam Goa Hawang (dalam bahasa daerah setempat/Kei disebut Lian Hawang).
Berjarak sekitar 15 kilometer dari kota Langgur (ibu kota Malra), daya tarik (spot) wisata itu sangat mempesona dengan keindahan alam dan juga suara burung-burung yang bisa menghipnotis wisatawan dan pengunjung.
Selain itu, goa hawang memiliki mitos menarik yang akan membuat perjalanan kamu semakin seru.
Ohoi Letvuan juga punya lokasi pemandian alam yang disebut disebut Wear Loat Un. Memiliki keunikan, teluk kecil ini kemudian dibagi atas dua bagian. sebagian untuk tambatan perahu dan sebagian untuk tempat pemandian masyarakat setempat.
“Air pemandian ini kemudian diberi nama Loat Un karena banyak belut didalamnya. Ketika air laut pasang (naik), maka seluruh air pemandian terasa asin,” ujar pria yang akrab disapa Marko.
Ada pula Pantai Letvuan Paradise. Dari lokasi ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan alam yang indah saat menghabiskan sore hari dengan menyaksikan matahari terbenam sambil ditemani segelas kopi khas Letvuan.
Bukan hanya pesona alam, ohoi Letvuan juga memiliki kekayaan seni yakni tari sosoi dan rumput laut.
Tarian sosoi sering dipentaskan oleh para gadis di ohoi Letvuan untuk menghibur para tamu undangan yang sedang berkunjung ke desanya.
Tarian ini juga menghendaki adanya interaksi dari para tamu dengan para penari dan juga masyarakat lainnya sebagai bentuk kebersamaan dan saling menghormati satu dengan lainnya.
Sementara tarian rumput laut menggambarkan kehidupan para petani rumput laut yang melakukan proses pembibitan, penanaman, hingga panen dan pada akhirnya akan ada ritual khusus untuk memberikan sedikit hasil panennya kepada alam atau sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
“Tradisi ini terus tetap dipegang dari sejak dahulu kala,” ujar Marko.
Ia mengungkapkan, dari sisi histori (sejarah), ohoi Letvuan pernah menjadi bagian dari perjuangan pembebasan Irian Barat pada tahun 1961-1962.
Sebelum pangkalan udara (lanud) Dumatubun Langgur ada saat ini, di ohoi Letvuan lebih dahulu terdapat lanud milik tentara Jepang yang dikerjakan pada tahun 1942.
Saat itu kepulauan Kei memiliki peran penting, karena di pelabuhan Tual merupakan pusat komando laut sedangkan di lapangan terbang Letvuan sebagai pusat komando udara.
Di lokasi inilah tentara jepang membangun bunker, yang oleh masyarakat setempat disebut Bunker Sakura Rahan Jepang, yang berfungsi untuk menyimpan alat-alat persenjataan.
“Bunker itu menjadi bukti sejarah yang hingga kini masih dirawat dengan baik oleh warga ohoi. Ini juga menjadi salah satu spot wisata bagi para turis dan pengunjung,” bebernya
Marko mengungkapkan, dari sisi produk ekonomi kreatif (ekraf), ohoi Letvuan memiliki berbagai produk anyaman seperti, nampan, sendok, lesung, dan kotak alat kecantikan yang berbahan dasar dari kayu rotan, bambu dan pewarnaan secara alami.
Kuliner khas ohoi setempat yakni Kopi Letvuan, memiliki keunikan jika dibandingkan dengan jenis kopi lainnya, karena merupakan campuran dari jenis kopi arabika dan robusta sehingga menghasilkan rasa yang autentik.
Yang menarik dari produk ini yakni di lokasi perkebunan kopi milik warga setempat, tumbuh dua jenis kopi pada satu pohon yakni robusta dan arabika.
Olehnya itu, kopi Letvuan masuk dalam jenis kopi arobusta karena merupakan campuran dari dua jenis tersebut.
“Selain kopi, disini juga ada abon ikan, berbagai olahan dari rumput laut dan juga enbal yang menjadi makanan khas Kei. Disini juga tersedia pakaian adat setempat, yang bisa langsung dibeli di toko souvenir ohoi Letvuan,” terang Marko.
Sebagai salah satu desa yang mulai dilirik para wisatawan dan pengunjung, tentunya berbagai kesiapan terus dilengkapi oleh pemerintah dan pokdarwis ohoi setempat.
Ohoi Letvuan memiliki 6 homestay, dimana setiap bangunan memiliki sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik.
Ruangan (kamar) tidur dilengkapi dengan fasilitas pendukung yang terawat. Setiap homestay juga terdapat buku tamu, kotak P3K, dan wisatawan bisa langsung hidup berdampingan dan melihat kehidupan bermasyarakat.
Sarana pendukung lainnya yakni toilet umum sebagai fasilitas penunjang, yang terawat, bersih, dilengkapi dengan tempat cuci tangan, papan petunjuk, dan air bersih.
Untuk urusan digitalisasi, di ohoi Letvuan saat ini pembayaran tiket (karcis) pada setiap daya tarik (spot) wisata (termasuk pondok jualan) sudah menggunakan fasilitas Quick Response Code Indonesian Standar (QRIS). Hal ini untuk memudahkan wisatawan.
Warga setempat tekun dan intens dalam menjaga kebersihan dari sampah. Baik itu di rumah maupun di dalam ohoi.
Sampah organik dan plastik kemudian diolah menjadi pupuk organik cair (POC) dan bahan untuk kerajinan tangan.





































































































