Yogyakarta, LanggurNews.com – Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi kebangkitan koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat.
Pada perayaan Hari Koperasi ke-78, Senin 21 Juli 2025, Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka resmi meluncurkan Program Nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Program ini tidak hanya menjadi simbol kebangkitan gotong royong, tetapi juga hadir dengan wajah baru yang lebih transparan, mandiri, dan berbasis digital.
Pemerintah menargetkan keberadaan KDMP mampu menjadi instrumen pemerataan kesejahteraan hingga ke tingkat desa.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa KDMP bukan sekadar rebranding, melainkan langkah nyata negara mengembalikan koperasi pada khitahnya.
“Kami yakin keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dapat mendorong kolaborasi antarpelaku usaha di destinasi sekaligus membuka ruang bagi integrasi ekosistem pariwisata lokal, di mana petani, pengrajin, penyedia akomodasi, kuliner, dan pemandu wisata bisa saling mendukung,” ujar Menpar.
Dengan target 80.000 KDMP di seluruh Indonesia, koperasi diharapkan menjadi agregator yang menghubungkan berbagai pelaku usaha desa, termasuk sektor pariwisata.
Manfaat nyata KDMP sudah dirasakan masyarakat Desa Wisata Tamanmartani, Sleman, Yogyakarta—salah satu dari tiga desa percontohan nasional.
Sejak beroperasi pada 16 Juni 2025, KDMP Tamanmartani telah memiliki 895 anggota.
Menurut Ketua KDMP, Mawardi, koperasi ini langsung mengelola empat unit usaha yakni Klinik dan apotek, Simpan pinjam, Sembako, serta Sarana produksi pertanian (saprotan).
Selain itu, koperasi juga mendukung pengembangan pariwisata dengan memasarkan produk UMKM lokal dan hasil tani.
Wisatawan yang datang dapat merasakan pengalaman wisata edukasi—mulai dari beternak, berkebun, hingga bertani—dan membeli hasil produk langsung di koperasi.
“Pelaku usaha tidak perlu berjuang sendiri. Koperasi menjadi distributor yang mengumpulkan produk dari anggota, lalu memasarkannya ke pasar lokal maupun digital. Rantai pasok lebih pendek, harga lebih baik, dan daya tawar meningkat,” jelas Mawardi.
KDMP Tamanmartani juga menjadi jembatan akses pembiayaan bagi pelaku usaha wisata.
Berkat arahan Menteri Pariwisata, koperasi menjalin kerja sama dengan BNI sehingga anggota bisa mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Dana pinjaman ini bisa digunakan untuk membangun fasilitas wisata (gazebo, toilet, area parkir), renovasi homestay, membeli perlengkapan outbound, dan memperbesar skala usaha kuliner dengan peralatan modern.
Menurut Pandu Cahyo Gustoro, pengelola bidang wisata Bumdes Tamanmartani, KDMP berkolaborasi erat dengan Bumdes dan Pokdarwis.
Paket wisata yang ditawarkan mencakup kunjungan ke Lumbung Mataraman, belajar jemparingan, membatik, hingga praktik bertani dan beternak.
“Alhamdulillah sudah berjalan lancar. Wisatawan asing maupun lokal sudah mulai berdatangan, dan dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” kata Pandu.
Bagi pelaku UMKM, keberadaan KDMP membawa efisiensi besar. Prima Sintalia, pemilik toko kelontong, mengaku bisa membeli kebutuhan toko dengan harga lebih murah melalui koperasi.
“Misalnya beli telur dari hasil peternakan, harganya lebih murah di koperasi. Jadi selain untung, saya juga bisa kasih harga lebih terjangkau ke warga,” kata Prima.
Ia berharap stok sembako dan produk lain di KDMP terus stabil agar manfaatnya semakin luas.
Meski baru dua bulan berjalan, KDMP Tamanmartani menunjukkan dampak signifikan yaitu, memperkuat usaha kecil dengan pemasaran terintegrasi, mempermudah akses modal, mengoptimalkan potensi wisata berbasis komunitas, dan memberikan harga lebih adil bagi masyarakat.
Dengan skema ini, koperasi tidak hanya kembali ke khitahnya, tetapi juga menjadi fondasi baru bagi pariwisata berkelanjutan dan ekonomi desa yang inklusif.
(Kemenpar/LanggurNews)






































































































