Namlea, LanggurNews.com – Tambang emas Gunung Botak (GB) kembali menelan korban jiwa. Tiga penambang dilaporkan tewas setelah tertimbun longsoran pada Rabu (24/9/2025).
Korban masing-masing diketahui bernama Dahlan Tasidjawa alias Tenga, warga Desa Hatawano, Kecamatan Waplau, Kabupaten Buru; Asri, warga asal Ternate, Maluku Utara, yang menetap di Desa Hatawano; serta Anyong, warga asal Seram Bagian Barat (SBB) yang juga tinggal di Hatawano.
Kepada media ini di Namlea, Sabtu (27/9/2025), Kepala Desa Hatawano, Untung Ahmad Hiku, membenarkan warganya menjadi korban dalam insiden tersebut.
Ia menjelaskan, musibah bermula saat sebuah bak penampung air bercampur bahan berbahaya beracun (B3) pecah dan airnya meluap masuk ke lubang tambang sedalam sekitar delapan meter.
Saat itu, Dahlan dan Asri sedang berada di dalam lubang galian.
Melihat kejadian itu, Anyong yang masih berada di luar mencoba menolong kedua rekannya. Namun nahas, ia ikut terperosok dan akhirnya tertimbun bersama mereka.
“Saya baru tahu saat pulang ke desa dan mendapati warga ramai berkumpul. Setelah mendapat informasi, saya langsung carter mobil dan bersama beberapa warga menuju Gunung Botak untuk membantu evakuasi,” ujar Ahmad Hiku.
Hingga sore hari, korban yang pertama berhasil ditemukan adalah Anyong.
Menjelang malam, informasi yang diterima Kades Hatawano menyebutkan dua korban lainnya, yakni Asri dan Dahlan, juga berhasil dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia.
Sementara itu, Paur Humas Polres Buru, Aiptu MYS Jamaluddin, yang dikonfirmasi melalui telepon dan pesan WhatsApp, belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut.
Kasus ini kembali menambah daftar panjang korban jiwa akibat aktivitas penambangan di Gunung Botak yang hingga kini masih berlangsung meski kerap menelan korban.






































































































