Jakarta, LanggurNews.com | Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menegaskan keselamatan wisata menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem pariwisata Indonesia yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar, Martini Mohamad Paham, mengatakan keselamatan bukan sekadar pelengkap, melainkan prasyarat mutlak dalam aktivitas pariwisata.
“Keselamatan bukan sekadar pelengkap dalam aktivitas wisata, tetapi prasyarat mutlak untuk mewujudkan destinasi yang tangguh, berdaya saing, dan dipercaya wisatawan,” kata Martini saat memberikan kuliah umum bertajuk Keselamatan Wisata di Politeknik Pariwisata Makassar, Rabu (11/2/2026).
Martini menjelaskan keselamatan wisata dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi alam dan cuaca, aspek teknis operasional, hingga faktor manusia atau human error.
Menurutnya, standar keselamatan yang kuat hanya dapat diwujudkan melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan.
Ia menyebut peran civitas akademika, pelaku usaha pariwisata, hingga organisasi seperti PHRI sangat penting dalam menjaga keselamatan. Selain itu, wisatawan juga dituntut berperan aktif dan bertanggung jawab.
“Wisatawan perlu memiliki kesiapan dalam menjaga keamanan diri sendiri, memastikan kelayakan perbekalan, serta memilih jasa pariwisata yang memiliki sertifikat, izin resmi, dan lisensi,” ujarnya.
Langkah tersebut dinilai efektif untuk meminimalkan risiko kecelakaan, khususnya pada sektor transportasi pariwisata yang kerap menjadi sorotan publik.
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kemenpar, Fadjar Hutomo, menilai keselamatan menjadi faktor penentu keberlanjutan kunjungan wisatawan, meskipun sebuah destinasi memiliki daya tarik alam yang kuat.
“Destinasi yang paling indah sekalipun dapat ditinggalkan jika tidak mampu memberikan rasa aman,” kata Fadjar.
Ia menegaskan rasa aman merupakan bagian dari kualitas layanan yang berpengaruh langsung terhadap reputasi destinasi pariwisata di tingkat global.
Kepala Subdirektorat Pengerahan Potensi dan Pengendalian Operasi Kecelakaan Transportasi Basarnas, Jumaril, menambahkan keselamatan wisata merupakan tanggung jawab kolektif, tidak hanya operator layanan atau lembaga penanggulangan.
“Mahasiswa Poltekpar yang kelak menjadi pemangku kebijakan harus menjadi role model dalam menanamkan budaya keselamatan sejak dini,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, President of UID Foundation Tantowi Yahya menyatakan Kemenpar perlu terus berperan sebagai katalisator yang mampu menggerakkan seluruh elemen ekosistem pariwisata di daerah.
Kuliah umum tersebut juga menghadirkan Plt Deputi Bidang Pencegahan BNPB Pangarso Suryotomo serta perwakilan BMKG, Ida Pramuwardani, sebagai narasumber lintas lembaga.
Kehadiran berbagai pihak ini menegaskan keselamatan wisata merupakan isu strategis yang membutuhkan pendekatan kolaboratif, berbasis mitigasi risiko dan kesiapsiagaan sejak dini.
(Kemenpar/LN)






































































































