Langgur, LanggurNews.com | Kader Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Kabupaten Maluku Tenggara, Stevanus Setitit, mendorong agar Maluku Tenggara ditetapkan sebagai lokasi pembangunan Maluku Integrated Port (MIP).
Menurut Stevanus, Maluku Tenggara, khususnya wilayah Kei Besar, memiliki posisi strategis dan kelayakan teknis untuk menjadi simpul logistik utama di kawasan Indonesia Timur.
Ia menegaskan dukungannya terhadap program Pemerintah Provinsi Maluku. Namun, ia mengingatkan pentingnya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Maluku.
“Kalau MIP hanya difokuskan ke Ambon atau Seram, itu tidak mencerminkan pemerataan pembangunan. Maluku Tenggara juga bagian dari Maluku dan punya potensi besar,” ujarnya.
Stevanus menilai Kei Besar berada di koridor strategis antara proyek energi Blok Masela di barat dan kawasan pengembangan pangan Papua di timur.
Posisi tersebut dinilai sebagai titik optimum dalam rantai logistik energi dan pangan nasional.
“Kei Besar menghubungkan Masela dan Papua. Tidak ada wilayah lain di Maluku yang menawarkan keseimbangan strategis seperti ini,” katanya.
Ia menyebut pembangunan MIP harus diproyeksikan untuk kebutuhan jangka panjang, 20 hingga 50 tahun ke depan, bukan sekadar agenda lima tahunan.
Menurutnya, terdapat sejumlah keunggulan Maluku Tenggara sebagai calon lokasi MIP yakni: Kedalaman laut alami memadai untuk kapal LNG dan kargo besar; Ketersediaan lahan siap bangun, termasuk bekas galian C yang mempermudah pengembangan kawasan industri; Akses langsung ke jalur pelayaran internasional melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia III (ALKI III); Kondisi geologi relatif stabil dengan karakter gelombang yang dinilai lebih tenang; Efisiensi logistik, yang diperkirakan dapat menghemat waktu tempuh dan biaya distribusi hingga 40–60 persen.
Stevanus menyebut MIP berpotensi menjadi simpul integrasi dua Proyek Strategis Nasional (PSN), yakni pengembangan LNG Masela dan program lumbung pangan di Papua.
Produksi LNG Masela, kata dia, membutuhkan pasokan pangan dan logistik yang efisien. Di sisi lain, kawasan pertanian skala besar di Papua memerlukan dukungan energi bersih dan terjangkau.
“Ini simbiosis ekonomi strategis. MIP bisa menjadi simpul pasokan energi bagi Papua sekaligus distribusi pangan bagi Masela,” ujarnya.
Ia memperkirakan pembangunan MIP di Maluku Tenggara akan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Indonesia Timur, membuka peluang industri energi dan agro-maritim, serta menciptakan lapangan kerja baru.
Selain aspek ekonomi, keberadaan pelabuhan besar di Kei Besar juga dinilai dapat memperkuat pengawasan laut di kawasan Laut Seram, Laut Banda, dan Laut Arafura, termasuk wilayah pengelolaan perikanan 718 yang selama ini rawan praktik illegal fishing.
“Pembangunan MIP di Kei Besar bukan hanya keputusan teknis, tetapi langkah strategis menjadikan Indonesia Timur sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru,” katanya.






































































































