Ohoi Iso, LanggurNews.com | Dokter Puskesmas Wain, Feylens Delfiga, menegaskan pentingnya peran kader dalam pelaksanaan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) di Ohoi Iso, Kecamatan Kei Kecil Timur, Kabupaten Maluku Tenggara, Rabu (14/1/2026).
dr. Feylens menjelaskan, pelayanan posyandu di Ohoi Iso pada prinsipnya sama dengan wilayah lain.
Namun saat ini posyandu telah menerapkan sistem ILP yang menuntut penyesuaian dalam pelaksanaan layanan kesehatan masyarakat.
“Sekarang posyandu sudah menggunakan sistem ILP, jadi memang masih dalam tahap penyesuaian dan masih ada kekurangan. Pelayanan tetap dilakukan dengan kerja sama antara puskesmas dan pemerintah desa,” katanya.
Menurutnya, beban kerja terbesar dalam sistem ILP berada pada kader posyandu. Karena itu, kader dituntut memiliki kemampuan yang memadai melalui pelatihan yang berkelanjutan.
“Yang kerja keras itu kader. Mereka harus benar-benar dilatih. Untuk pelatihan kader sendiri sudah dilakukan oleh puskesmas beberapa waktu lalu dan akan terus dilakukan secara bertahap,” ujar dr. Feylens.
Ia menjelaskan, posyandu ILP tidak lagi hanya menyasar bayi dan balita, tetapi juga mencakup usia produktif dan lanjut usia (lansia). Pada pelaksanaan posyandu kali ini, mayoritas peserta yang hadir adalah lansia dan anak-anak.
“Sebenarnya sasaran di Ohoi Iso ini cukup banyak, mulai dari anak-anak, usia produktif, sampai lansia. Tapi yang datang hari ini lebih banyak lansia dan anak-anak,” katanya.
dr. Feylens juga menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk datang ke posyandu dalam kondisi sehat. Padahal, tujuan utama posyandu ILP adalah melakukan skrining dini terhadap seluruh masyarakat.
“Banyak yang datang hanya saat sakit. Padahal yang sehat juga harus datang supaya bisa dilakukan skrining. Kalau ada penyakit, bisa dideteksi lebih dini dan segera ditangani,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan layanan, pendaftaran dilakukan oleh kader, kemudian peserta diarahkan ke layanan sesuai kelompok usia.
Pemeriksaan untuk usia produktif dan lansia dipisahkan dari layanan bayi dan balita agar pelayanan lebih optimal.
“Untuk usia produktif dan lansia, kita lakukan skrining seperti pemeriksaan tekanan darah. Kalau ada keluhan, sekaligus kita berikan pengobatan terbatas dengan obat yang tersedia di Ohoi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, meski posyandu pada dasarnya berfokus pada skrining, pemberian obat dilakukan sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kunjungan masyarakat.
“Kalau tidak ada obat, biasanya masyarakat enggan datang. Jadi pengobatan ini strategi agar yang sakit mau datang dan ditangani sesuai prosedur,” ujarnya.
Sementara itu, untuk bayi dan balita, pelayanan tetap dilakukan seperti biasa, meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, serta penilaian status gizi oleh petugas gizi.
“Kalau ada temuan seperti kurus atau stunting, langsung kita lakukan intervensi,” pungkas dr. Feylens.






























































































