Langgur, LanggurNews.com | Dari wilayah kepulauan di tenggara Maluku, perjalanan Wilhelmus P. Foudubun atau yang akrab disapa Roby menjadi cerita tentang ketekunan, pengorbanan, dan mimpi yang diperjuangkan tanpa lelah.
Lahir di Langgur, 30 Maret 1972, Roby memulai langkahnya di dunia perwasitan sepakbola nasional pada tahun 2000.
Saat itu, di usia 29 tahun, ia mengikuti kursus Wasit C3 Daerah yang digelar SKB Tual bekerja sama dengan Pengcab PSSI Maluku Tenggara. Dari sinilah jalan panjangnya dimulai.
Dua tahun kemudian, ia naik tingkat dengan mengikuti kursus Wasit C2 yang diselenggarakan Pengda PSSI Maluku.
Tekadnya semakin bulat ketika pada usia 33 tahun ia mengikuti kursus Wasit C1 Nasional di Ternate. Kursus tersebut digelar bekerja sama dengan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan menghadirkan instruktur FIFA asal Malaysia.
Hasilnya tak sepenuhnya manis. Roby dinyatakan lulus bersyarat. Rekannya bahkan tidak lulus. Namun alih-alih kecewa, ia justru menjadikan itu sebagai cambuk.
“Saya punya tekad kuat harus bertugas di level nasional,” kenangnya kepada wartawan media ini di Langgur, Kamis (19/2/2026).
Sebagai wasit dari wilayah terpencil, akses informasi dan jaringan bukan perkara mudah. Ia harus aktif mencari arahan dari para senior di Maluku.
Salah satu pesan penting yang ia dapatkan dari salah satu seniornay di Maluku yakni Junus Eduward Kailuhu (alm) adalah untuk selalu membuat laporan pertandingan setiap kali bertugas dan mengirimkannya langsung ke PSSI sebagai bentuk keseriusan.
Usaha itu membuahkan hasil. Pada 2006, Roby menerima telegram tugas perdana dari PSSI untuk memimpin pertandingan di Manokwari. Momen itu menjadi titik balik dalam kariernya.
Setahun berselang, ia mengikuti penyegaran wasit di Bandung.
Dalam tes kebugaran yang ketat, hanya Roby yang dinyatakan lulus dari rombongan Maluku.
Sejak 2007 hingga 2017, ia menjadi satu-satunya wasit yang mewakili Asprov PSSI Maluku di level nasional.
Ia dipercaya memimpin pertandingan di berbagai daerah, mulai dari Papua, Sulawesi, Kalimantan hingga Jawa.
Namun di balik pencapaian itu, ada sisi duka yang jarang terlihat.
Setiap kali mengikuti penyegaran, biaya ditanggung sendiri oleh peserta.
Tiket pesawat dari Maluku ke Jawa bukan angka kecil. Beberapa kali Roby harus menghadapi kendala biaya.
“Istri saya bahkan rela menggadaikan perhiasannya demi membeli tiket saya,” ungkapnya lirih.
Dukungan keluarga menjadi fondasi utama yang membuatnya bertahan. Tanpa itu, mungkin langkahnya terhenti di tengah jalan.
Selama lebih dari satu dekade, Roby rutin mengikuti penyegaran dan selalu lulus. Baru pada 2018 ia gagal dalam tes.
Namun kegagalan itu bukan akhir. Di tahun yang sama, ia justru dipanggil mengikuti kursus instruktur kebugaran kerja sama PSSI dan FIFA di Yogyakarta.
Sejak saat itu, ia menyandang status sebagai instruktur kebugaran/fisik PSSI.
Perannya tak lagi hanya memimpin pertandingan, tetapi juga membina kualitas fisik para wasit.
Pada 2023 dan 2025, ia kembali dipercaya mengikuti penyegaran instruktur yang digelar PSSI bersama FIFA dengan menghadirkan pelatih internasional dari Malaysia, India, dan Jepang.
Bagi Roby, perjalanan sebagai wasit nasional bukan hanya soal meniup peluit di tengah lapangan.
Ini adalah kisah tentang bagaimana seseorang dari wilayah kepulauan yang jauh dari pusat sepak bola nasional, tetap mampu berdiri sejajar lewat kerja keras, disiplin, dan pengorbanan.
Dari Langgur, Kepulauan Kei, ia membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan alasan untuk berhenti bermimpi.






































































































