Langgur, LanggurNews.com | Pernahkah kita mengalami saat-saat indah dalam hidup—ketika doa terasa begitu hidup, iman menguat, dan hati dipenuhi sukacita—lalu berharap momen itu tidak pernah berakhir?
Kita ingin “tinggal di sana”, jauh dari masalah dan pergulatan hidup.
Para murid Yesus juga pernah merasakan pengalaman seperti itu di atas Gunung Tabor. Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung.
Di sana, wajah-Nya berubah rupa dan pakaian-Nya menjadi putih bercahaya. Musa dan Elia menampakkan diri, dan para murid melihat kemuliaan Yesus—siapa Dia sesungguhnya.
Petrus yang terpesona berkata, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di sini.” Ia ingin mendirikan kemah dan tinggal lebih lama.
Namun pengalaman indah itu tidak berhenti di sana. Dari dalam awan terdengar suara Bapa:
“Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia!”
Pesan ini sederhana tetapi sangat mendalam. Allah tidak hanya ingin para murid terpesona oleh kemuliaan Yesus, melainkan terutama mendengarkan Dia.
Setelah pengalaman itu, Yesus mengajak mereka turun gunung—kembali ke kenyataan hidup, menuju Yerusalem, menuju salib.
Peristiwa transfigurasi bukan pelarian dari penderitaan, melainkan penguatan iman agar para murid sanggup menghadapi jalan salib. Kemuliaan di gunung menjadi cahaya yang menuntun mereka di lembah kehidupan.
Saudara-saudari terkasih, Prapaskah adalah waktu bagi kita untuk “naik gunung”: memperdalam doa, refleksi diri, dan pertobatan.
Namun tujuan akhir perjalanan rohani kita bukan tinggal di puncak, melainkan turun kembali dengan hati yang diubah.
Ada tiga pesan penting bagi kita:
Pertama, belajarlah mendengarkan Yesus.
Di tengah kesibukan pekerjaan, keluarga, dan berbagai tanggung jawab, kita sering lebih banyak berbicara daripada mendengarkan Tuhan.
Luangkan waktu membaca Injil dan merenungkannya. Tanyakan: Apa yang Tuhan kehendaki dariku hari ini?
Kedua, biarkan doa mengubah hidup.
Pengalaman rohani yang sejati akan tampak dalam sikap: lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli kepada sesama—terutama mereka yang lemah dan menderita.
Ketiga, jangan takut turun gunung.
Iman sejati diuji bukan saat kita merasa kuat, tetapi ketika kita kembali ke realitas hidup: konflik keluarga, keterbatasan ekonomi, persoalan sosial. Justru di sanalah cahaya Kristus dibutuhkan.
Minggu Prapaskah II mengutus kita membawa terang Gunung Tabor ke dalam kehidupan sehari-hari.
Marilah kita mendengarkan Yesus, membiarkan hati kita diubah, dan berani turun gunung untuk menjadi saksi kasih-Nya.
Semoga Prapaskah ini tidak hanya memberi kita pengalaman rohani yang indah, tetapi juga melahirkan hidup yang lebih setia, lebih peduli, dan lebih penuh harapan.
(Oleh : Pastor Anselmus Amo, MSC; Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Bombay, Kei Besar)






































































































