Langgur, LanggurNews.com – Seminari Santo Yudas Thadeus merayakan Dies Natalis ke-75 perjalanannya sebagai wadah pembinaan para calon imam (pastor) tingkat menengah.
Dalam momen tersebut, dilaksanakan perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin Uskup Agung Makassar, Mgr. Fransiskus Nipa, yang dipusatkan di Stadion Maren Langgur, Sabtu (27/10/2024).
Selain Uskup Agung Makassar, tercatat ada lima Uskup lainnya yang turut hadir dalam perayaan dimaksud.
Mereka adalah Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC (Uskup Agung Merauke), Mgr. Aloysius Murwito OFM (Uskup Keuskupan Agats), Mgr. Seno Ngutra (Uskup Keuskupan Amboina), Uskup Emeritus Mgr. Petrus Turang (mantan Uskup Kupang), dan Mgr. Nikolaus Adi Saputra MSC (mantan Uskup Merauke).
Mengawali perayaan, Mgr. Fransiskus Nipa mengatakan, usia 75 tahun bukanlah waktu yang singkat.
“Ini waktu yang lama dan panjang. Tempora Mutantur Etnos Mutamur in Ilis (waktu berubah dan kita pun turut berubah di dalamnya),” ujar Uskup Nipa.
Uskup Nipa menjelaskan, sepanjang waktu itu (75 tahun), perahu yang disebut Seminari Santo Yudas Thedeus berlayar mengarungi samudera kehidupan iman.
Dan dalam samudera iman itu, ada begitu banyak kontributor.
“Para uskup dari waktu ke waktu, para pastror, biarawan-biarawati, guru, karyawan, segenap formator, para donatur, dan khususnya dalam hal ini keluarga-keluarga yang mendonasikan anak-anaknya masuk ke seminari. Mereka semua adalah kontributor,” ungkap Uskup.
Sebagai wadah pembinaan para calon imam (pastor) tingkat menengah, Seminari Langgur telah menghasilkan para misionaris domestik, imam-imam diosesan yang bekerja di Keuskupan Amboina dan berbagai keuskupan di seluruh Indonesia.
“Para misionaris yang masuk dalam berbagai konggregasi, ordo, tarekat dan bermisionaris ke penjuru dunia. Ini adalah karunia Tuhan yang melimpah ruah,” kata Uskup Nipa.
Sementara itu, Uskup Agung Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC dalam khotbahnya menjelaskan, pada tanggal 6 Maret 2023, Paus Fransiskus melakukan visitasi ke Seminari St. Mary Cleveland Ohio Amerika Serikat untuk merayakan 175 tahun berdiirnya seminari itu.
Pada kesempatan itu, lanjut Uskup Mandagi, Paus berkata kepada para imam, diakon dan seminaris. Ada tiga karakteristik seorang imam yang sejati.
Pertama, mendengarkan Tuhan. Seorang imam harus memberikan ruang kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
“Habiskanlah waktumu bersama dengan Tuhan dalam doa dan keheningan. Imam adalah manusia pendoa,” terang Uskup Mandagi.
Kedua, berjalan bersama dengan sesama imam, Uskup, para religius dan kaum awam, serta dengan gereja universal.
Ketiga, menjadi saksi. Dunia membutuhkan saksi yang sejati tentang kehadiran Tuhan, kebenaran, keadilan dan kejujuran.
“Kita boleh bangga karena Seminari Santo Yudas Thadeus Langgur telah menghasilkan banyak imam. Namun janganlah berpuas diri,” tandas Uskup.
Menurut mantan Uskup Diosis Amboina itu, Seminari Langgur harus terus-menerus berubah, melakukan pembaharuan.
Selain itu, tidak kalah pentingnya di zaman modern ini, Seminari Langgur membutuhkan tenaga-tenaga pendidik yang berkompeten.
“Ada pepatah Latin demikian, Verba Docent, Exempla Trahunt yang artinya kata-kata yang mengajar, namun tindakan yang memberi teladan. Untuk itu, tenaga pendidik (guru) harus memberikan contoh yang baik,” pungkas Uskup Mandagi.
Proficiat Seminari Santo Yudas Thadeus Langgur !






































































































