Langgur, LanggurNews.com – Hari Minggu 2 Februari dalam kalender liturgi Gereja Katolik diperingati sebagai Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah.
Warna Liturgi : Putih
Perayaan :
Beata Eugenia de Smet: Lahir pada tahun 1825 dan dikenal sebagai pembina tarekat Suster-Suster Pembantu Jiwa-jiwa di Api Penyucian. Ia wafat pada 7 Februari 1872. Digelari Beata oleh Paus Pius XII (1939 – 1958) pada tanggal 26 Mei 1957.
Santa Yoana Lestonac : Lahir pada tahun 1556. Ia mendirikan Kongregasi Suster yang mengabdikan diri di bidang pendidikan anak-anak puteri. Ia meninggal dunia pada tahun 1640.
Beato Theofanus Venard (Martir) : Lahir pada tahun 1829, dan wafat pada 2 Februari 1861. Dijuluki Martir Gembira.
Berikut bacaan-bacaan untuk umat :
Bacaan Pertama Mal 3:1-4
“Tuhan yang kamu cari itu akan datang ke bait-Nya”
Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku agar ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Tiba-tiba Tuhan yang kamu cari itu akan datang ke bait-Nya!
Utusan Perjanjian yang kamu inginkan itu, sesungguhnya, la datang, firman TUHAN Semesta Alam.
Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Siapakah yang dapat tetap berdiri, ketika la menampakkan diri? Sebab la seperti api pemurni logam dan seperti sabun penatu.
la akan duduk seperti orang yang memurnikan dan menahirkan perak. Ia menahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan kurban kepada TUHAN dalam kebenaran.
Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun purbakala.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 24:7.8.9.10
Ref: Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan.
Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!
Siapakah Raja Kemuliaan itu? Tuhan gagah dan perkasa, TUHAN perkasa dalam peperangan!
Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!
Siapakah Dia, Raja Kemuliaan itu? Tuhan Semesta Alam, Dialah Raja Kemuliaan!”
Bacaan Kedua Ibr 2:14-18
“Dalam segala hal, Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya”
Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, la juga menjadi sama dengan mereka dan turut mengalami keadaan mereka, supaya melalui kematian-Nya la memusnahkan dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut.
Dengan demikian, Ia membebaskan pula mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takutnya kepada maut.
Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia pedulikan, tetapi keturunan Abraham yang Ia pedulikan.
Itulah sebabnya, dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya la menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa umat.
Karena la sendiri telah menderita ketika dicobai, Ia dapat menolong mereka yang sedang dicobai.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Bait Pengantar Injil Luk 2:32
Dialah terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.
Bacaan Injil Luk 2:22-40
“Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu”.
Lalu ketika tiba waktu penahiran mereka menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Tuhan”, dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel, dan Roh Kudus ada di atasnya.
Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias dari Tuhan.
la datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menggendong-Nya sambil memuji Allah, katanya,
“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu dalam damai, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang datang dari-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan-Mu bagi bangsa-bangsa lain, dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”
Ayah dan ibu-Nya heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Dia.
Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan dan membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang. Suatu pedang juga akan menembus jiwamu sendiri.”
Ada pula seorang nabiah bernama Hana, anak perempuan Fanuel dari suku Asyer. Sesudah kawin, ia hidup bersama suaminya tujuh tahun lamanya, lalu menjanda sampai berumur delapan puluh empat tahun.
Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada saat itu juga ia mendekat dan mengucap syukur kepada Allah. Ia berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan pembebasan untuk Yerusalem.
Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke Galilea, ke kota mereka Nazaret.
Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan anugerah Allah ada pada-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.

Renungan Katolik
“Yesus Teladan Kerendahan Hati”
(oleh Pastor La Edi Teodorus MSC)
Saudara-saudari yang terkasih.
Suatu saat dalam perjalanan dengan motor dari Pineleng ke Kawangkoan, Sulawesi Utara, saya ditilang oleh polisi karena melanggar rambu lalu lintas yang tidak saya perhatikan.
Bersama saya juga ditilang seorang bapak yang nampak berdebat dengan Pak Polisi. Saya mendengar ia berkata kepada Pak Polisi: “Pak, saya ini pendeta”! Pak Polisi nampak marah dan meninggikan suara: “kiapa so kalo pendeta? Justru ngoni itu yang harus kasih contoh” (artinya, memangnya kenapa kalau pendeta? Justru kalian yang harus memberikan teladan). Saya pun tersenyum sambil merenung.
Saudara-saudari,
Pada hari ini kita merayakan Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah. Sesuai hukum Musa bahwa setiap anak sulung pria harus dikuduskan bagi Tuhan (Kel 13:2), Yesus dibawa ke Bait Allah untuk dikuduskan bagi Tuhan.
Sebelumnya pada usia 8 hari Yesus juga telah disunat dan diberi nama di Bait Allah sesuai hukum Yahudi. Yesus mengikuti semua hukum dan ketentuan sebagai seorang Yahudi yang melambangkan kerendahan hati dan ketaatanNya pada hukum-hukum ilahi dan manusiawi.
Kelak Yesus juga akan taat untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, mesti Yohanes merasa tak pantas membaptisNya karena Ia adalah Putera Allah sendiri.
Kerendahan hati dan ketaatan Yesus ini secara konsisten dihidupi sampai kemudian Ia taat pada pengadilan manusiawi yang menjatuhkan hukuman mati bagiNya, yang juga dijalaniNya dengan penuh ketaatan.
Yesus tidak pernah meminta perlakuan khusus atau privilese untuk diriNya sendiri dengan statusNya sebagai Putera Allah. Demikian cara Yesus untuk menjalankan semua kehendak Allah BapaNya sampai selesai sehingga misi penyelamatan manusia dapat dijalankan.
Tujuan hidup kita ialah mencari dan menaati kehendak Bapa atas hidup kita (misi penyelamatan kita). Hal yang paling menghalangi dari tujuan hidup ini ialah tidak adanya kerendahan hati dan ketaatan.
Jangankan menjalankan kehendak Bapa, menemukannya saja tidak akan mungkin jika kita tidak pernah bertanya kira-kira apa maksud Tuhan di balik pengalaman-pengalaman hidup kita terutama pengalaman yang paling pahit dan sulit kita terima.
Apalagi jika kita memiliki mentalitas “tidak mau susah”, menggunakan atribut-atribut keagamaan untuk mencari keuntungan diri, memaksa Tuhan untuk menjadi pelayan kita. Saya taat ketika ditilang.
Pengalaman itu terus membekas dan sampai sekarang saya selalu berusaha memperhatikan rambu-rambu lalu lintas. Itulah pelajaran dari Tuhan untuk saya.
Saudara-saudari yang terkasih.
Mari kita menjalani hidup kita dengan rendah hati seperti Yesus rendah hati, maka kita akan menemukan bahwa Yesus sungguh hidup dan mengajar kita setiap hari. Kita akan sadar bahwa kita sedang menjalani perjalanan yang Ia kehendaki untuk hidup kita. Kita sedang menjalani misi penyelamatan kita sendiri.
Editor : geraLdo






































































































