Ohoi Iso, LanggurNews.com – Pemerintah Ohoi Iso, Kecamatan Kei Kecil Timur, menggelar Musyawarah Ohoi Rembuk Stunting Tahun 2025 sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan stunting berbasis perencanaan dan evaluasi.
Kegiatan tersebut berlangsung di Balai Ohoi Iso, Selasa (16/12/2025), dan dihadiri Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (TA PM P3MD) Kabupaten Maluku Tenggara, Relly Sambono.
Dalam arahannya, Relly Sambono menegaskan bahwa perencanaan konvergensi stunting idealnya dilakukan lebih awal dan tidak dimulai pada tahap kedua.
Menurutnya, tahun berjalan seharusnya difokuskan pada evaluasi capaian, sementara tahapan perencanaan wajib diselesaikan sebelum Musyawarah Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Ohoi.
Relly mengapresiasi komitmen Pemerintah Ohoi Iso yang secara konsisten melaksanakan rembuk stunting setiap tahun.
Ia menyebutkan, di sejumlah ohoi lain, keterlambatan perencanaan menyebabkan program stunting harus berjalan paralel dengan penyusunan RKP, sehingga kurang optimal dari sisi perencanaan dan penganggaran.
Ia menjelaskan bahwa secara tahapan, Ohoi Iso telah melalui sebagian besar proses konvergensi stunting, mulai dari penetapan KPM, pelatihan, hingga pelaksanaan rembuk stunting secara berkelanjutan.
Dari total 190 ohoi di Kabupaten Maluku Tenggara, Ohoi Iso dinilai sebagai salah satu ohoi yang progresif, meskipun masih menyisakan satu tahapan penting yang perlu diperkuat, yakni pelaksanaan rapat rutin Rumah Data Sehat (RDS).
Meski demikian, capaian penurunan stunting di Ohoi Iso dinilai sangat signifikan. Angka stunting berhasil ditekan dari empat kasus menjadi satu kasus.
Relly berharap angka tersebut terus menurun, seraya menegaskan bahwa upaya pencegahan harus tetap berjalan mengingat masih adanya kelompok sasaran berisiko seperti ibu hamil, calon pengantin, dan remaja putri.
Lebih lanjut, Relly menekankan bahwa keberhasilan penurunan stunting tidak semata ditentukan oleh peran pendamping, perangkat ohoi, maupun tenaga kesehatan, tetapi sangat bergantung pada dukungan dan partisipasi aktif masyarakat.
Ia juga menyoroti pemanfaatan Dana Desa yang dinilai belum maksimal, khususnya untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT), yang selama ini lebih banyak tercatat berasal dari sektor kesehatan akibat keterlambatan pencairan anggaran desa.
Selain itu, ia mendorong penguatan peran keluarga melalui perubahan perilaku hidup sehat serta peningkatan kehadiran orang tua, termasuk bapak, dalam kegiatan posyandu.
Menurutnya, keterlibatan langsung keluarga menjadi kunci agar pesan kesehatan dan intervensi gizi dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan rumah tangga.
Menutup arahannya, Relly mengajak seluruh pemangku kepentingan di tingkat ohoi untuk terus memperkuat komitmen bersama melalui forum RDS dan rembuk stunting.
Ia berharap strategi percepatan penurunan stunting berbasis keluarga dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan, sehingga capaian Ohoi Iso dapat menjadi contoh bagi ohoi lainnya di Kabupaten Maluku Tenggara.



































































































