Jakarta, LanggurNews.com | Kementerian Kesehatan RI tengah memfinalisasi Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Dengue 2026–2029 untuk merespons dampak urbanisasi dan perubahan iklim.
Strategi ini disiapkan demi mengejar target global nol kematian akibat dengue pada 2030.
Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr. Murti Utami, menyebut pendekatan pengendalian dengue tidak lagi bisa mengandalkan satu intervensi.
“Urbanisasi tinggi, perubahan iklim, dan mobilitas masyarakat menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi dan preventif,” kata Murti dalam Forum Regional Dengue di Hotel JW Marriott Jakarta, Senin (9/2/2026).
Forum ini dihadiri perwakilan negara-negara ASEAN, WHO, pemerintah daerah, sektor swasta, serta para ahli kesehatan. Pertemuan tersebut membahas penguatan kebijakan bersama menghadapi ancaman demam berdarah di kawasan.
Dalam RAN 2026–2029, Kemenkes menetapkan empat fokus utama, yakni peningkatan deteksi dini dan diagnosis, penguatan tata laksana klinis dan sistem rujukan, pencegahan terintegrasi, serta penguatan surveilans dan sistem peringatan dini.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, Prima Yosephine, menegaskan pencegahan dengue harus mencakup pengendalian lingkungan, vektor nyamuk, dan perlindungan manusia melalui vaksinasi.
“Kita tidak bisa hanya fokus pada satu aspek. Semua harus berjalan bersamaan,” ujarnya.
Kemenkes juga memastikan program nyamuk ber-Wolbachia akan dilanjutkan. Saat ini program tersebut berjalan di lima kota dan akan dievaluasi untuk diperluas ke daerah lain.
Sementara itu, Ketua KOBAR (Fight Dengue Joint Coalition), dr. Suir Syam, menekankan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam menekan angka kesakitan dengue di Indonesia.
“Pemerintah pusat tidak bisa bekerja sendiri. Pencegahan harus dimulai dari daerah,” katanya.
(Kemenkes/LN)






































































































