Namlea, LanggurNews.com – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tampak serius membenahi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui berbagai program prioritas. Setelah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan pada Januari 2025, pemerintah kembali memperkenalkan Cek Kesehatan Gratis sebagai bagian dari Pro-Hasil Terbaik Cepat (PHTC).
Dua kebijakan ini menandai arah pembangunan kesehatan yang menempatkan pencegahan sebagai fondasi utama.
Cek Kesehatan Gratis diberikan kepada seluruh warga Indonesia sekali dalam setahun, dengan pengecualian bagi ibu hamil dan bayi baru lahir yang telah memperoleh pemantauan berkala melalui Puskesmas dan Posyandu.
Program ini menyasar berbagai kelompok usia—bayi, balita, anak sekolah, remaja, dewasa produktif hingga lansia—dengan jenis pemeriksaan yang disesuaikan.
Mulai dari pemeriksaan gizi, tekanan darah, gula darah, anemia, hepatitis B/C, hingga deteksi kebiasaan merokok, seluruh rangkaian pemeriksaan dilakukan melalui Posyandu, sekolah, serta sistem jemput bola ke desa-desa.
Di Kabupaten Buru, Maluku, program ini telah mulai berjalan dan menyentuh lapisan masyarakat yang sebelumnya sulit mengakses layanan preventif.
Sebagai tenaga kesehatan, saya melihat program ini hadir seperti oase bagi masyarakat ekonomi menengah bawah.
Kelompok ini seringkali menempatkan kesehatan sebagai kebutuhan sekunder karena prioritas utama mereka adalah memenuhi kebutuhan harian.
Pemeriksaan kesehatan berkala dianggap “mewah”, padahal justru menjadi benteng pertama mencegah penyakit serius. Berbeda dengan keluarga yang secara ekonomi mapan, kelompok masyarakat rentan jarang melakukan deteksi dini.
Di sinilah Cek Kesehatan Gratis menghadirkan ruang kesetaraan: memberi kesempatan kepada semua orang untuk sadar kesehatan tanpa terbebani biaya.
Meski konsepnya kuat, implementasi di lapangan belum sepenuhnya ideal. Dari sejumlah sekolah yang dikunjungi, cakupan pemeriksaan masih terbatas dan baru menyentuh sebagian kecil sasaran.
Selain itu, kebijakan pemeriksaan hanya sekali setahun patut dievaluasi. Dalam beberapa kasus, perkembangan penyakit berlangsung cepat dan membutuhkan pemeriksaan lebih rutin.
Beberapa pemeriksaan yang disediakan program ini berkaitan dengan penyakit yang memiliki risiko progresif. Jika screening terlewat atau terlalu jarang, potensi keterlambatan diagnosis menjadi besar.
Sayang jika program yang didukung penuh pemerintah ini tidak mencapai hasil optimal hanya karena kendala pelaksanaan.
Cek Kesehatan Gratis memiliki keterkaitan langsung dengan MBG, terutama dalam upaya pencegahan stunting dan pengurangan kesenjangan. Evaluasi menyeluruh diperlukan agar kedua program ini berjalan sinergis dan mampu memperbaiki kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
Presiden Prabowo pernah menegaskan, “Pelayanan kesehatan masyarakat yang layak merupakan kewajiban negara, dan harus tersedia secara merata untuk seluruh rakyat Indonesia, terutama bagi yang kurang mampu.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa negara hadir untuk memastikan kesehatan menjadi hak semua orang, bukan privilese kelompok tertentu.
Melalui Cek Kesehatan Gratis, lebih dari 24 juta masyarakat kurang mampu kini memiliki alasan baru untuk tersenyum—karena negara tidak sekadar hadir, tetapi ikut menjaga kesehatan mereka sejak dini.
Penulis: dr. Annisa Zakiah Jamlean (Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Maju)



































































































