Langgur, LanggurNews.com – Umat Katolik hari ini memulai masa Prapaskah, yang ditandai dengan perayaan Hari Rabu Abu.
Hari Rabu Abu merupakan pantang dan puasa bagi umat Katolik sedunia.
Warna Liturgi : Ungu
Perayaan : Santo Yohanes Yosef (Pengaku Iman), Santo Eusebius dari Kremoana (Pengaku Iman), dan Gerasimos (Pengaku Iman)
Berikut bacaan-bacaan untuk umat :
Bacaan Pertama (Yoel 2:12-18)
“Sekarang juga, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”
Sekarang, beginilah sabda Tuhan, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh.”
Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.
Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, lalu meninggalkan berkat menjadi kurban sajian dan kurban curahan bagi Tuhan, Allahmu.
Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya;
kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang lanjut usia, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah pengantin laki-laki keluar dari kamarnya, dan pengantin perempuan dari kamar tidurnya.
Baiklah para imam, pelayan-pelayan Tuhan, menangis di antara balai depan mezbah, dan berkata, “Sayangilah, ya Tuhan, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka.
Mengapa orang berkata di antara bangsa-bangsa: “Di mana Allah mereka?”
Maka Tuhan menjadi cemburu karena tanah-Nya dan menaruh belas kasihan kepada umat-Nya.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan (Mzm. 51:3-6a.12-14-17)
Ref. Kasihanilah kami, ya Allah, karena kami orang berdosa.
Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu, hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku dan tahirkanlah aku dari dosaku!
Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku. Terhadap Engkau sendirilah aku berdosa, yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.
Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam diriku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil Roh-Mu yang kudus dari padaku!
Berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu, dan teguhkanlah roh yang rela dalam diriku. Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku mewartakan puji-pujian kepada-Mu!
Bacaan Kedua (5:20-6:2)
“Berilah dirimu didamaikan dengan Allah, sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan.”
Saudara-saudara, kami ini adalah utusan-utusan Kristus; seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami. Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah.
Kristus yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
Sebab teman-teman sekerja, kami menasihati kamu supaya kamu jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima.
Sebab Allah berfirman, “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.”
Camkanlah, saat inilah saat perkenanan itu; hari inilah hari penyelamatan itu.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Bait Pengantar Injil (PS 965)
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Pada hari ini kalau kamu mendengar suara Tuhan janganlah bertegar hati.
Bacaan Injil (Mat 6:1-6.16-18)
“Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan mengganjar engkau.”
Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat. Karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga.
Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong supaya dipuji orang.
Aku berkata kepadamu: Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik.
Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri di rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu, ‘Mereka sudah mendapat upahnya’.
Tetapi jika engkau berdoa masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
Dan apabila kamu berpuasa janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu, ‘Mereka sudah mendapat upahnya’.
Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Katolik
“Empat Hal Utama dalam masa Prapaskah”
(oleh : Pastor Adriano Rahaded SVD)
Umat Allah yang terkasih…
Hari ini Gereja merayakan Hari Rabu Abu, saat dimulainya masa Prapaskah. Dihari ini, umat diajak untuk berefleksi tentang empat hal utama: abu, sedekah, doa dan puasa.
Pertama, Abu.
Abu melambangkan dukacita, ketidakabadian dan sesal atau tobat. Dengan pemberian abu, Gereja mengingatkan kita akan ketidakabadian kita sehingga memanggil kita untuk hidup dalam semangat pertobatan sejati. Abu juga mengajak kita agar sepanjang masa Prapaskah mengarahkan hati kepada Kristus yang sengsara, wafat, dan bangkit demi keselamatan manusia. Penderitaan Kristus menjadi undangan untuk pertobatan, sedangkan kebangkitan-Nya menjadi sumber harapan akan kualitas hidup yang lebih baik.
Kedua, memberi sedekah.
Tuhan mengajak kita supaya memberi sedekah tanpa mencanangkan hal itu, karena Bapa melihat yang tersembunyi dan akan membalasnya. Ini adalah simbol kerendahan hati, simbol hidup bersahaja di hadapan Allah. Persis di sinilah kita ditunutut dari untuk memiliki hati yang tulus. Hati yang tidak menghitung-hitung apa yang sudah diberikan kepada Allah sebagai persembahan dan kepada sesama sebagai bantuan.
Ketiga, berdoa.
Tuhan juga menghendaki kesederhanaan dan ketulusan hati kita untuk mengarahkan hati dan pikiran kepada-Nya dalam setiap doa-doa yang kita panjatkan, baik doa pribadi maupun doa bersama. Tak jarang bahwa dalam berdoa, orang tergoda hanya berpikir tentang tata bahasa yang baik, yang benar, dan menarik perhatian banyak orang. Tetapi Tuhan lebih melihat soal keterbukaan dan kesungguhan hati kita untuk bersatu dengan-Nya.
Keempat, berpuasa.
Dalam menjalankan laku puasa, Tuhan menghendaki supaya kita tetap bergembira, dan bersukacita. Puasa bukan cuma tidak makan ini atau itu; atau berpantang makan daging atau apalah itu. Puasa itu sebenarnya mengoyak tirai jiwa untuk membebaskan diri kita dari segala perbudakan dosa. Maka amat penting bagaimana kita menata diri untuk menjadi bebas dari segala keterikatan dosa itu.
Jelas sekali bahwa tindakan kita memberi derma, berdoa dan berpuasa pertama-tama bukan untuk sekedar menjalankan praktik prapaskah yang diwariskan turun temurun, melainkan mengajarkan kita agar bisa menguasai diri, menolak yang jahat dan hidup dalam jalan Tuhan.
Semoga kita menjadi semakin peka terhadap setiap rahmat Allah dan menjadi tanda pertobatan bagi sesama melalui doa, perbuatan baik (sedekah) dan puasa.
Selamat memyambut perayaan Rabu Abu. Tuhan memberkati
Sumber bacaan : www.thekatolik.com
Editor : geraLdo



































































































