Langgur, LanggurNews.com – Pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil Bupati Maluku Tenggara (Malra) Periode 2024-2029 Martinus Sergius Ulukyanan (MSU) dan Ahmad Yani Rahawarin (AYR), melaksanakan kampanye di ohoi (desa) Ngilngof, Kecamatan Manyeuw.
Paslon nomor urut satu dengan jargon MARYADAT itu didampingi pimpinan partai politik, tim pemenang dan tokoh-tokoh yang menjadi jurkam handal.
Thomas Ulukyanan, (mantan Anggota DPRD Malra Periode 2019-2024) tampil sebagai salah satu orator dalam kampanye yang dilaksanakan pada hari Rabu (6/11/2024) itu.
Thomas meminta warga ohoi Ngilngof satukan hati untuk memastikan paslon Maryadat keluar sebagai pemenang Pilkada Malra 2024.
“Tanggal 27 November tinggal beberapa hari lagi. Saya minta untuk berdoa ver duad nit, at her fo lan (kepada Tuhan dan leluhur, kita minta agar) pada tanggal 27 November benar-benar diwujudkan ada pemimpin yang baru untuk memimpin kabupaten ini tahun 2024-2029,” kata Thomas dalam orasi politiknya.
Menurutnya, kekuasaan yang dipegang pemerintahan lima tahun sebelumnya belum mampu menyenangkan hati masyarakat.
Malah sebaliknya, masyarakat semakin hidup susah.
“Kekuasaan diberikan untuk menghidupkan rakyat. Ketika rakyat tidak bisa hidup, anda tidak layak untuk memimpin, karena terseleksi sebagai ‘tidak mampu’. Karena itu, berikanlah kesempatan kepada putra-puteri lainnya. Itulah hakekat demokrasi,” ujar Thomas.
Thomas menegaskan, pada intinya, kekuasaan adalah kewenangan untuk bertindak, yang ujungnya menyusahkan rakyat atau menyenangkan rakyat.
Dalam orasinya, Thomas membeberkan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam tiga tahun terakhir saat ia menjabat anggota DPRD.
“APBD Malra terjun bebas. Tahun 2023, APBD kita Rp. 1 triliun lebih. Tahun 2024 turun jadi Rp. 900an miliar. Kemudian yang baru, data dari Jakarta, sudah turun menjadi Rp. 800an miliar. Ini adalah bukti pemimpin sebelumnya tidak mampu menjalankan kekuasaan dengan baik,” tuturnya.
Lebih jauh kata Thomas, contoh lain dari masalah ini adalah pemimpin lima tahun lalu tidak menjalankan program pembangunan pariwisata secara optimal, khususnya di Ngilngof.
Padahal pariwisata ini merupakan salah satu leading sector (sektor unggulan) pembangunan daerah.
“Ngilngof merupakan salah satu destinasi wisata yang merupakan prioritas unggulan dalam APBD, namun sayangnya sama sekali tidak jalan,” ungkap Thomas dan dijawab “Betul, b’denar he (dengarkanlah),” oleh masyarakat Ngilngof.



































































































