Bali, LanggurNews.com – Ajang internasional Sail to Indonesia 2025 menjadi momentum strategis dalam mendorong kemajuan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi inklusif di Indonesia.
Kegiatan yacht rally terbesar dunia ini mendapat perhatian serius dari Founder International Yacht Rally Organizer, Raymond T. Lesmana, selaku penyelenggara internasional, yang menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta.
Saat dihubungi melalui telepon selulernya, Raymond menyatakan bahwa Sail to Indonesia bukan sekadar parade kapal layar, tetapi peluang besar untuk mengangkat potensi lokal ke panggung global.
Namun, ia menyoroti lemahnya komunikasi dan minimnya infrastruktur pariwisata sebagai hambatan utama, terutama di wilayah-wilayah kepulauan seperti Kabupaten Maluku Tenggara.
“Komunikasi itu sangat mendasar. Sampai sekarang kami belum menerima rundown kegiatan dari Maluku Tenggara. Yang kami tahu hanya titik labuh kapal layar saja,” ujar Raymond.
Ia menegaskan bahwa tanpa komunikasi dan informasi yang jelas, pihak penyelenggara tidak bisa mempromosikan destinasi kepada para yachter internasional.
Lebih lanjut, Raymond menyebut pentingnya pembangunan pelabuhan pariwisata sebagai fasilitas dasar.
Menurutnya, pelabuhan pariwisata menjadi kebutuhan mendesak. Bukan hanya tempat labuh kapal layar, tapi juga bisa dikembangkan untuk aktivitas masyarakat seperti olahraga bahari, edukasi informal, hingga riset akademis.
“Kalau wisatawan asing datang sendiri tanpa ikut rally, mereka mau ke mana? Ke Debut, Tual, atau Ngurbloat? Daerah harus menentukan entry point dan promosikan itu. Misalnya Ngiarwarat, jika bisa dilabuhi, ya promosikan ke dunia,” ungkapnya.
Raymond mengingatkan bahwa keberhasilan Sail to Indonesia 2025 di Maluku Tenggara bergantung pada kesiapan daerah, bukan hanya pada penyelenggara pusat.
Ibarat kedatangan yachter seperti undangan ke rumah seseorang, Raymond pun memberikan analogi sederhana.
“Kalau saya diundang ke rumah anda, tentu saya butuh tahu alamatnya, apakah ada tempat parkir, apakah aman dan nyaman. Lalu, ada apa saja di sana? Terus, siapa-siapa saja yang hadir. Itu semua adalah pertanyaan yang akan ditanyakan oleh para yachter,” ungkapnya.
Selain infrastruktur dan komunikasi, Raymond mendorong daerah untuk memberikan informasi seputar budaya, sambutan lokal, kuliner, hingga destinasi wisata.
Hal itu bisa jadi nilai tambah yang membuat para pelayar dunia tertarik singgah dan berlama-lama di daerah tersebut.
Untuk itu, Sail to Indonesia 2025 tidak hanya menjadi ajang seremonial semata, tetapi benar-benar memberikan output dan outcome nyata bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
“Saya berharap, kegiatan ini jangan dipandang sebagai hura-hura. Harus ada dampaknya bagi masyarakat. Pemda harus menyiapkan skema agar event ini benar-benar bermanfaat. Maluku Tenggara harus bisa tampil sebagai wajah pariwisata bahari Indonesia yang ramah, kaya budaya, dan siap bersaing di level Asia Tenggara bahkan global,” tutupnya.
Editor : Geraldo Leisubun



































































































