LanggurNews.com | Jakarta – Kinerja sektor pariwisata Indonesia terus menunjukkan tren positif hingga Mei 2026. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), perjalanan wisatawan nusantara (wisnus), surplus kunjungan wisatawan, hingga tingkat okupansi hotel mengalami peningkatan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan capaian tersebut menunjukkan sektor pariwisata tetap menjadi salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
“Capaian ini menjadi indikator bahwa pariwisata Indonesia memiliki daya tahan sekaligus tetap menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang penting,” kata Widiyanti dalam Laporan Bulanan Kinerja Kemenpar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Berdasarkan data Kemenpar, jumlah kunjungan wisman pada Mei 2026 mencapai 1,38 juta kunjungan atau naik 5,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 1,31 juta kunjungan.
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Mei 2026, Indonesia menerima 6,07 juta kunjungan wisatawan mancanegara atau tumbuh 7,68 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Menurut Widiyanti, capaian Mei 2026 menjadi yang tertinggi sepanjang tahun berjalan dan menunjukkan minat wisatawan asing terhadap Indonesia tetap kuat.
Pertumbuhan terbesar berasal dari pasar Asia Tenggara yang meningkat 11,06 persen menjadi 608.076 kunjungan.
Kenaikan juga terjadi dari pasar Timur Tengah sebesar 5,67 persen, Asia lainnya 5,37 persen, Oseania 4,69 persen, Afrika 3,72 persen, dan Amerika 1,13 persen. Sementara pasar Eropa mengalami penurunan 5,91 persen akibat ketidakpastian geopolitik global.
Di sisi lain, perjalanan wisatawan nusantara juga terus meningkat. Pada Mei 2026 tercatat 106,16 juta perjalanan atau naik 8,69 persen dibandingkan Mei 2025 yang mencapai 97,67 juta perjalanan.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 523,22 juta perjalanan atau meningkat 2,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengungkapkan perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri justru mengalami penurunan.
Pada Mei 2026, jumlah perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri tercatat 550.382 perjalanan atau turun 6,05 persen dibandingkan Mei 2025.
Secara kumulatif Januari-Mei 2026, jumlahnya mencapai 3,69 juta perjalanan atau turun 3,88 persen.
“Penurunan perjalanan ke luar negeri terjadi bersamaan dengan meningkatnya perjalanan wisatawan nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik destinasi dalam negeri tetap kuat dan semakin menjadi pilihan masyarakat Indonesia,” ujar Ni Luh.
Kondisi tersebut membuat Indonesia masih mencatat surplus kunjungan wisatawan. Pada Mei 2026, surplus mencapai 830 ribu kunjungan, sedangkan secara kumulatif Januari hingga Mei mencapai 2,37 juta kunjungan.
“Kondisi ini mendukung pencapaian net devisa pariwisata yang positif bagi Indonesia,” katanya.
Pemulihan sektor akomodasi juga terus berlanjut. Tingkat okupansi hotel berbintang pada Mei 2026 mencapai 50,76 persen atau naik 2,48 poin persentase dibandingkan Mei 2025.
Secara kumulatif Januari-Mei 2026, tingkat okupansi hotel berbintang mencapai 46,99 persen, meningkat dari 44,85 persen pada periode yang sama tahun lalu.
“Okupansi hotel yang membaik menjadi sinyal positif bagi ekosistem pariwisata karena berhubungan langsung dengan pergerakan wisatawan, pendapatan pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, serta aktivitas ekonomi pendukung di destinasi,” ujar Ni Luh.
Selain memaparkan capaian kinerja, Kemenpar juga menyampaikan sejumlah langkah yang dilakukan sepanjang Juni 2026, di antaranya memperkuat koordinasi lintas kementerian untuk pengembangan empat destinasi prioritas percepatan yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo.
Menjelang musim libur sekolah, Kemenpar juga menerbitkan Surat Edaran tentang penyelenggaraan kegiatan wisata yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
Sebanyak 5.145 daya tarik wisata di 36 provinsi telah dipetakan berdasarkan tingkat kerawanannya, sementara 139 destinasi telah divisitasi untuk memastikan aspek keamanan, keselamatan, dan pelayanan wisata.
Di bidang promosi, Kemenpar menggelar berbagai kegiatan di Tiongkok, Korea Selatan, India, dan Malaysia. Hasilnya, promosi tersebut mencatat potensi perjalanan sebanyak 36.807 wisatawan, potensi transaksi Rp7,27 miliar, serta potensi devisa mencapai Rp559,48 miliar.
Sementara melalui program Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, sebanyak 36 event yang telah digelar hingga akhir Juni berhasil menarik sekitar 1,34 juta pengunjung dengan transaksi ekonomi langsung mencapai Rp90,53 miliar.
Program tersebut juga melibatkan lebih dari 10 ribu UMKM, puluhan ribu pekerja seni, serta membuka lapangan kerja bagi lebih dari 20 ribu tenaga kerja.






































































































