LanggurNews.com | Kei Besar – Penutupan Bulan Rosario pada Sabtu (31/10/2026) menjadi momentum bagi umat Katolik untuk kembali mendalami makna kerendahan hati dan kepasrahan total kepada kehendak Allah sebagaimana diteladankan Bunda Maria.
Pesan tersebut disampaikan Romo Anselmus Amo, MSC, Pastor Paroki HKY Bombay, Kei Besar, Keuskupan Amboina, dalam renungan Katolik bertema “Rendah Hati dan Pasrah Total: Menimba Inspirasi dari Bunda Maria pada Penutupan Bulan Rosario”.
Dalam renungannya, Romo Anselmus mengajak umat menjadikan penutupan Bulan Rosario bukan sebagai akhir dari devosi kepada Bunda Maria, melainkan sebagai awal untuk menghidupi nilai-nilai Rosario dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengangkat bacaan Injil Lukas 14:1, 7-11, ketika Yesus memberikan pengajaran tentang kerendahan hati melalui perumpamaan dalam sebuah perjamuan.
Yesus mengingatkan para tamu agar tidak mencari tempat terhormat, tetapi memilih tempat paling belakang. Sebab, barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, sedangkan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.
Menurut Romo Anselmus, kerendahan hati bukanlah kepura-puraan ataupun sikap rendah diri, melainkan kesadaran yang jujur mengenai posisi manusia di hadapan Allah dan sesama.
Orang yang rendah hati tidak sibuk mencari pengakuan atau keagungan diri karena memahami bahwa kehormatan sejati berasal dari Allah, bukan dari penghargaan manusia.
Romo Anselmus menjelaskan, nilai kerendahan hati tersebut tampak nyata dalam diri Bunda Maria ketika menerima kabar dari Malaikat Gabriel.
Alih-alih menyombongkan diri atas panggilan istimewa sebagai Ibu Tuhan, Maria justru menunjukkan kepasrahan melalui jawaban imannya.
“Aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Sikap tersebut, lanjutnya, memperlihatkan bahwa kebesaran Maria justru terletak pada kesediaannya menjadi hamba Tuhan yang taat dan rendah hati.
Melalui doa Magnificat, Maria juga mengungkapkan bagaimana Allah mengindahkan kerendahan hati hamba-Nya, merendahkan orang-orang yang berkuasa dan meninggikan mereka yang rendah.
Karena itu, setiap kali umat mendaraskan doa Salam Maria, mereka sesungguhnya diajak untuk belajar memiliki kerendahan hati dan ketaatan yang sama.
Lebih lanjut, Romo Anselmus menghubungkan kerendahan hati dengan kerinduan manusia akan kehadiran Allah.
Ia mengutip Mazmur 42:2 yang menggambarkan kerinduan jiwa kepada Tuhan seperti rusa yang merindukan sungai berair.
Menurutnya, hati yang sombong cenderung merasa cukup dengan dirinya sendiri. Sebaliknya, hati yang rendah hati senantiasa menyadari kebutuhan akan rahmat dan kehadiran Allah.
Semangat penyerahan diri itu juga tercermin dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi (Flp. 1:18b-26).
Dari dalam penjara, Paulus tetap menunjukkan keyakinan bahwa seluruh hidupnya adalah milik Kristus. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Romo Anselmus menegaskan, pengalaman iman Paulus dan Bunda Maria mengajarkan umat agar tidak dikuasai ego pribadi, tetapi berani menyerahkan kehidupan kepada kehendak Allah.
Menutup renungannya, Romo Anselmus mengingatkan bahwa berakhirnya Bulan Rosario tidak berarti umat harus menghentikan doa dan devosi kepada Bunda Maria.
Sebaliknya, momentum tersebut harus menjadi kesempatan untuk membawa semangat Rosario ke dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengajak umat melakukan refleksi diri, apakah doa Rosario yang selama ini didaraskan telah membantu meruntuhkan kesombongan, menjadikan pribadi lebih ramah, mau mengalah, serta bersedia melayani sesama, terutama mereka yang terpinggirkan.
Melalui perantaraan Bunda Maria, Ratu Rosario, umat diharapkan semakin memiliki hati yang lemah lembut dan rendah hati serta menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan.
“Mari kita terus melangkah dengan menjadikan Kristus sebagai pusat hidup kita, siap duduk di tempat yang paling belakang dalam pelayanan, agar pada saatnya Allah sendiri yang mengangkat dan memuliakan kita,” demikian pesan Romo Anselmus.
Renungan ini ditutup dengan doa: Bunda Maria, Ratu Rosario, doakanlah kami. Amin.
Oleh : Pastor Anselmus Amo, MSC
(Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Bombay, Kei Besar, Keuskupan Amboina)





































































































