LanggurNews.com | Langgur – Ada pemandangan berbeda saat Tim Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Merangkai Kei Universitas Gadjah Mada (UGM) tiba di Ohoi Ohoidertom dan Ohoi Ohoidertutu, Kecamatan Kei Kecil Barat, Kabupaten Maluku Tenggara.
Sebelum memulai pengabdian, seluruh mahasiswa harus mengikuti prosesi adat, termasuk ritual menyentuh piring yang diyakini menjadi bentuk pengenalan kepada leluhur.
Prosesi penyambutan berlangsung khidmat dengan dihadiri Kepala Ohoi, perangkat desa, dan tokoh adat.
Bagi masyarakat Kei, penerimaan tamu bukan sekadar seremoni penyambutan, melainkan bagian dari tata adat yang harus dijalankan agar kehadiran seseorang diterima, baik oleh masyarakat maupun secara spiritual.
Rangkaian upacara diawali dengan doa adat yang dipimpin tokoh adat setempat. Doa tersebut dipanjatkan sebagai permohonan izin dan restu kepada para leluhur atas kehadiran tim KKN UGM di kedua ohoi.
Usai doa, satu per satu anggota tim KKN mengikuti prosesi menyentuh piring. Ritual inilah yang menjadi inti dari seluruh rangkaian penyambutan adat.
“Upacara ini dimaknai sebagai momen agar leluhur dapat mengenali wajah setiap anggota tim, sehingga kehadiran para mahasiswa selama masa KKN dapat diterima dengan baik, baik secara sosial di tengah masyarakat maupun secara adat dan spiritual,” ujar salah satu perangkat Desa Ohoidertom.
Bagi masyarakat Kepulauan Kei, setiap tamu yang datang ke sebuah ohoi diyakini perlu diperkenalkan kepada leluhur yang menjaga wilayah tersebut. Karena itu, prosesi adat menjadi bagian penting sebelum seseorang menjalankan aktivitas di tengah masyarakat.
Tradisi tersebut menunjukkan kuatnya ikatan masyarakat Kei dengan nilai-nilai adat yang hingga kini masih dijaga. Hubungan antara manusia, alam, dan leluhur dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain memimpin jalannya upacara, tokoh adat juga menyampaikan pesan kepada para mahasiswa agar menjaga sikap, menghormati budaya lokal, serta membangun hubungan yang baik dengan masyarakat selama menjalankan pengabdian.
Kehadiran Kepala Ohoi bersama perangkat desa dalam prosesi itu juga menjadi simbol dukungan pemerintah desa terhadap pelaksanaan program-program KKN yang akan berlangsung di Ohoidertom dan Ohoidertutu.
Bagi tim KKN Merangkai Kei UGM, pengalaman mengikuti ritual tersebut menjadi pelajaran pertama sebelum terjun ke masyarakat.
Prosesi adat itu dinilai memberikan pemahaman mengenai cara pandang masyarakat Kei terhadap adat, leluhur, dan kehidupan sosial.
Dengan diterimanya para mahasiswa secara adat, mereka kini resmi memulai rangkaian pengabdian masyarakat di kedua ohoi tersebut.
Berbagai program pemberdayaan yang telah disiapkan akan dijalankan secara bertahap dengan tetap mengedepankan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya lokal.
Masyarakat pun berharap kehadiran tim KKN UGM dapat membawa manfaat melalui transfer pengetahuan, pendampingan, serta berbagai program yang mendukung pembangunan di tingkat ohoi.
Penyambutan secara adat diyakini menjadi awal yang baik untuk membangun hubungan erat antara mahasiswa dan masyarakat selama masa KKN berlangsung.
(KKN-UGM/LN)






































































































