LanggurNews.com | Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempercepat pemerataan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP) guna mendukung operasional alat laboratorium kateterisasi (cath lab) yang telah didistribusikan ke berbagai kabupaten dan kota di Indonesia.
Dalam pres rilis Kemenkes, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan keberadaan alat kesehatan berteknologi tinggi tidak akan maksimal menyelamatkan pasien serangan jantung apabila tidak didukung tenaga medis yang memadai.
“Begitu alat-alat ini terpasang, masalah yang paling berat adalah masalah tenaganya,” kata Budi saat menghadiri Konvokasi dan Inaugurasi Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) 2026 di Jakarta, Sabtu (18/7/2026).
Menurut data Kemenkes, jumlah dokter spesialis jantung dengan kompetensi kardiologi intervensi meningkat signifikan dalam enam tahun terakhir. Pada 2020 Indonesia hanya memiliki 99 dokter dengan kompetensi tersebut, sedangkan pada 2026 jumlahnya melonjak menjadi 414 dokter atau bertambah 315 orang.
Budi menyebut peningkatan tersebut menjadi akselerasi pemenuhan dokter spesialis tercepat dibandingkan kelompok spesialis lainnya.
Untuk mempercepat peningkatan kompetensi, Kemenkes juga rutin mengirim dokter spesialis mengikuti program fellowship jantung di luar negeri.
Hingga kini sebanyak 98 dokter telah diberangkatkan ke Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia.
Sebanyak 58 dokter telah menyelesaikan pendidikan dan kembali bertugas di Indonesia. Dalam waktu dekat, Kemenkes akan kembali memberangkatkan 10 dokter spesialis jantung untuk mengikuti program serupa.
Meski begitu, kebutuhan dokter spesialis jantung di Indonesia masih jauh dari terpenuhi. Berdasarkan proyeksi Kemenkes pada 2026, Indonesia membutuhkan 6.801 dokter spesialis jantung, sedangkan jumlah yang tersedia baru mencapai 1.639 dokter. Artinya, masih terdapat kekurangan sebanyak 5.162 dokter.
Selain kekurangan jumlah, pemerataan tenaga medis juga menjadi tantangan. Sebanyak 63,8 persen dokter spesialis jantung masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Renan Sukmawan mengatakan peningkatan jumlah dokter harus dibarengi dengan kualitas lulusan yang setara.
Saat ini, program pendidikan spesialis jantung telah berkembang dari dua menjadi 18 program studi berbasis universitas dan rumah sakit.
“Bagi kami di Kolegium Jantung, jalur pendidikan mana pun yang ditempuh tidak menjadi masalah. Yang paling penting adalah kualitas lulusannya harus sama melalui ujian nasional (board examination), demi melayani masyarakat di seluruh pelosok negeri,” ujar Renan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga etika profesi agar setiap tindakan medis benar-benar didasarkan pada kepentingan terbaik pasien. Menurutnya, ketepatan diagnosis dan terapi juga penting untuk mencegah tindakan medis yang tidak diperlukan sekaligus memastikan anggaran BPJS Kesehatan digunakan secara efektif.
Pada kesempatan yang sama, Ketua PERKI Ade Median Ambari mengukuhkan 79 dokter spesialis jantung baru. Ia berpesan agar seluruh lulusan menjaga marwah profesi dengan tetap berpegang pada prinsip evidence-based medicine.
Sementara itu, Menkes Budi menegaskan profesionalisme menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap profesi dokter.
“Profesi ini akan hilang maknanya kalau masyarakat kehilangan kepercayaannya. Once the trust of the people is gone, then our profession juga hilang,” ujarnya.
Ke depan, Kemenkes bersama Kolegium dan PERKI akan terus memperkuat pemerataan layanan jantung melalui pelatihan dokter umum di fasilitas kesehatan primer, percepatan penempatan dokter spesialis intervensi di daerah yang belum memiliki layanan, serta penguatan layanan lanjutan seperti pemasangan alat pacu jantung (pacemaker) dan terapi aritmia di tingkat provinsi.





































































































