LanggurNews.com | Tual – Aksi heroik seorang bocah berusia 14 tahun mewarnai upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Kur Selatan, Kota Tual, Provinsi Maluku, saat menyelamatkan bendera merah putih.
Aksi itu pun terekam video dan menjadi viral di sejumlah platoform media sosial.
Wartawan media ini berhasil mewawancarai bocah tersebut melalui saluran telepon (video call).
Nama bocah itu adalah Rangga Bugis (14), siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tual.
Demi memastikan Sang Merah Putih tetap berkibar sempurna, ia nekat berlari dan memanjat tiang bendera.
Aksi itu terjadi saat upacara pengibaran bendera di Halaman Kantor Kecamatan Kur Selatan, Senin (17/8/2026).
Saat itu, Rangga sedang berdiri dalam barisan bersama peserta upacara lainnya. Pandangannya kemudian tertuju ke tiang bendera.
Ia melihat pengait pada bagian putih bendera terputus dan nyaris membuat Merah Putih terlepas.
“Saat itu saya sementara berada dalam barisan. Kemudian saya melihat ke arah tiang, ternyata pengait bendera pada bagian warna putih putus,” kata Rangga kepada wartawan LanggurNews.com.
Tanpa menunggu komando, Rangga langsung berlari menuju tiang bendera. Dalam situasi upacara yang sedang berlangsung, ia kemudian memanjat tiang untuk mengikat kembali bagian bendera yang terlepas.
“Saya berlari untuk selamatkan kaitan putih karena sudah mau terlepas, jadi saya naik untuk ikat kembali,” ujarnya.
Rangga menegaskan dirinya tidak mendapat perintah dari siapa pun. Ia bergerak karena tidak ingin melihat Sang Saka Merah Putih gagal berkibar sempurna di momen sakral peringatan kemerdekaan.
“Saya lari menuju tiang tanpa orang suruh,” katanya.
Ketika ditanya apa yang membuatnya berani memanjat tiang bendera, Rangga memberikan jawaban singkat.
“Karena saya cinta Merah Putih,” ucapnya.
Kalimat sederhana itu menjadi gambaran keberanian seorang anak yang memilih bertindak ketika melihat bendera negaranya dalam keadaan terancam terlepas.
Di usianya yang baru 14 tahun, Rangga seolah menunjukkan bahwa semangat perjuangan tidak mengenal usia.
Kecintaan terhadap Indonesia bukan hanya tentang menghafal sejarah kemerdekaan, tetapi juga tentang menjaga simbol perjuangan bangsa dengan sepenuh hati.
Di tengah barisan peserta upacara, Rangga memilih keluar dari barisan. Ia berlari, memanjat tiang dan memperbaiki kaitan bendera agar Merah Putih tetap berada di tempatnya.
Bagi Rangga, beberapa detik keberanian itu adalah bagian kecil dari cara dirinya menghormati perjuangan para pahlawan.
Rangga bukan hanya memiliki keberanian untuk menyelamatkan bendera. Ia juga menyimpan cita-cita besar.
Siswa kelas IX SMP Negeri 4 Tual itu bercita-cita menjadi seorang tentara. Ia ingin kelak mengabdikan diri dan ikut membangun kampung halamannya di wilayah Pulau Kur.
“Saya ingin menjadi tentara agar bisa bangun kampung saya,” tuturnya.
Rangga saat ini tinggal bersama kakek dan neneknya. Ibunya telah meninggal
dunia, sementara ayahnya berada di luar daerah.
“Sekarang saya tinggal dengan nene (nenek) dan tete (kakek) juga. Mama sudah meninggal, kalau bapa (ayah) ada di luar daerah,” katanya.
Meski masih sangat muda, namun perhatian anak semata wayang ini tidak hanya tertuju pada dirinya sendiri. Ia justru menyampaikan pesan kepada Pemerintah Kota Tual dan DPRD Kota Tual agar kondisi jalan di pulau-pulau Kur mendapat perhatian.
“Saya minta agar bangun kembali jalan-jalan di pulau-pulau Kur,” pintanya.
Permintaan itu menunjukkan kepedulian Rangga terhadap kampung halamannya. Ia berharap pembangunan infrastruktur dapat membuat masyarakat di pulau-pulau Kur lebih mudah beraktivitas dan terhubung dengan wilayah lainnya.
Di momentum HUT ke-81 RI, Rangga juga mengajak teman-teman seusianya untuk terus belajar dan mencintai Tanah Air.
“Saya mau bilang kepada teman-teman sekolah untuk tetap semangat dalam belajar dan mencintai Merah Putih,” pesannya.
Aksi Rangga mungkin hanya berlangsung dalam hitungan menit. Namun keberanian bocah 14 tahun itu meninggalkan pesan yang jauh lebih panjang.
Ketika pengait bendera terputus, ia tidak diam. Ketika Merah Putih nyaris terlepas, ia tidak menunggu perintah. Ia berlari, memanjat dan berusaha memastikan Sang Saka kembali berkibar sempurna.
Di hari ketika bangsa Indonesia mengenang perjuangan para pahlawan, Rangga menunjukkan bentuk perjuangannya sendiri.
Bukan dengan senjata, bukan pula dengan pidato panjang. Hanya dengan keberanian seorang anak yang ingin melihat Merah Putih tetap berkibar di tiang tertinggi.
Karena saya cinta Merah Putih…!
Terima Kasih, Rangga







































































































Saya mencintai merah putih
Merdeka..!