LanggurNews.com | Mombasa, Kenya – Indonesia menyampaikan empat komitmen baru untuk memperkuat tata kelola laut berkelanjutan pada ajang Our Ocean Conference (OOC) ke-11 di Mombasa, Kenya.
Komitmen tersebut membuka peluang dukungan pendanaan internasional hingga USD 260 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun melalui berbagai skema kerja sama.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan komitmen tersebut menjadi bukti keseriusan Indonesia dalam menjaga kelestarian laut sekaligus menghadapi tantangan perubahan iklim.
“Empat komitmen yang kami sampaikan hari ini menegaskan langkah konkret Indonesia dalam memperkuat pengelolaan ruang laut, memperluas dan meningkatkan efektivitas kawasan konservasi, serta mengembangkan solusi berbasis alam seperti karbon biru untuk mitigasi perubahan iklim,” kata Trenggono dalam keterangan resmi, Selasa (23/6/2026).
Komitmen pertama berfokus pada penguatan tata kelola ruang laut. Pemerintah akan mengintegrasikan perencanaan tata ruang darat dan laut ke dalam tata ruang nasional maupun provinsi.
Selain itu, regulasi zonasi lintas wilayah akan disusun dan kawasan strategis nasional karbon biru akan dimasukkan ke dalam perencanaan tata ruang nasional.
Komitmen kedua adalah penetapan kawasan konservasi laut baru seluas 700 ribu hektare pada tahun 2026.
Langkah ini menjadi bagian dari target jangka panjang Indonesia untuk mencapai kawasan konservasi laut seluas 30 persen dari total perairan nasional pada tahun 2045.
“Ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem laut, serta mencapai target perluasan kawasan konservasi laut mencapai 30 persen dari total luas perairan nasional pada tahun 2045,” ujarnya.
Tak hanya memperluas kawasan konservasi, Indonesia juga berkomitmen melakukan evaluasi efektivitas pengelolaan 19,10 juta hektare kawasan konservasi laut yang telah ditetapkan. Evaluasi tersebut dilakukan agar manfaat konservasi dapat dirasakan secara optimal oleh lingkungan dan masyarakat pesisir.
Sementara itu, komitmen keempat adalah pengembangan satu model proyek karbon biru yang akan dijadikan proyek percontohan untuk direplikasi di berbagai wilayah Indonesia pada masa mendatang.
Menurut Trenggono, persoalan laut merupakan tantangan global yang membutuhkan kerja sama lintas negara. Karena itu, Indonesia siap memperkuat kemitraan dengan berbagai pihak untuk mempercepat implementasi program-program perlindungan laut.
“Kami percaya bahwa tantangan laut bersifat lintas batas, sehingga membutuhkan kolaborasi global yang kuat. Indonesia siap memperdalam kemitraan dengan negara sahabat, organisasi internasional, dan seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat aksi nyata, dari komitmen menuju implementasi,” katanya.
Indonesia sendiri memiliki rekam jejak panjang dalam forum OOC. Sejak 2016, Indonesia aktif berpartisipasi dalam konferensi tersebut dan bahkan menjadi tuan rumah penyelenggaraan OOC ke-5 pada tahun 2018.
Saat menjadi tuan rumah, Indonesia menyampaikan 23 komitmen perlindungan laut dengan nilai total sekitar USD 500 juta atau setara Rp 7-8 triliun.
Selama sembilan tahun keikutsertaan di OOC, Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menyampaikan 73 komitmen terkait kesehatan dan keberlanjutan laut.
Trenggono menegaskan bahwa pembangunan ekonomi berbasis kelautan harus berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Melalui komitmen-komitmen yang konkret dan terukur, Indonesia menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi berbasis kelautan dapat berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat pesisir, sejalan dengan semangat SDG 14 untuk memastikan laut tetap lestari bagi generasi mendatang,” pungkasnya.






































































































