LanggurNews.com | Maluku Tenggara – Pastor Prof. Dr. Johanis Ohoitimur MSC atau akrab disapa Pastor Yong menyampaikan pesan kepada tiga imam baru dalam Perayaan Ekaristi Kudus Misa Pertama Imam Baru RP Belly Yoakhim Resubun MSC di Ohoi Ngilngof, Kecamatan Manyeuw, Kabupaten Maluku Tenggara pada Jumat (7/8/2026), .
Dalam khotbahnya, Pastor Yong menegaskan imamat seorang pastor harus selalu menyatu dengan Ekaristi. Sebab, imamat Kristus merupakan imamat kurban dan seorang imam dipanggil untuk mengorbankan dirinya bagi keselamatan banyak orang.
“Yesus adalah imam kurban, imam yang mengorbankan dirinya (sacerdos victima),” kata Pastor Yong.
Menurutnya, imamat setiap pastor bukanlah milik pribadi, melainkan partisipasi dalam imamat Kristus.
“Setiap pastor, imamatnya bukan milik pribadi. Imamat dari setiap pastor adalah partisipasi di dalam imamat Kristus,” ujarnya.
Jika imamat Kristus merupakan imamat kurban, lanjut Pastor Yong, maka imamat seorang pastor juga merupakan imamat kurban. Hal tersebut terlihat ketika seorang pastor memimpin Perayaan Ekaristi Kudus.
“Dalam Ekaristi, bersama Kristus seorang imam mengorbankan dirinya untuk orang-orang, untuk Gereja, untuk penebusan dunia,” katanya.
Karena itu, Pastor Yong menegaskan pentingnya persatuan antara imamat dan Ekaristi.
“Imamat tanpa Ekaristi adalah kosong. Karena semangat pengorbanan diri dari seorang pastor adalah mengorbankan dirinya untuk keselamatan banyak orang,” tegasnya.
Pastor Yong juga mengungkap perjalanan panjang yang dilalui tiga imam muda tersebut sebelum akhirnya ditahbiskan.
Ia mengatakan proses pendidikan dan pembinaan mereka telah berlangsung sekitar 13-14 tahun.
“Tiga imam muda ini belajar membiarkan diri dibina, dibentuk untuk menjadi imam seperti yang kita saksikan hari ini,” ujarnya.
Menurutnya, perjalanan tersebut dimulai dengan sekitar empat tahun pendidikan di seminari menengah.
Karena menjadi anggota MSC, mereka kemudian menjalani dua tahun persiapan untuk menjadi anggota MSC.
Setelah itu, mereka mengikuti delapan tahun pendidikan sebagai sarjana, satu tahun tahun pastoral, dua tahun pendidikan khusus persiapan tahbisan, kemudian menjalani masa diakonal dan tahun khusus.
“Suatu masa yang panjang,” katanya.
Selama proses tersebut, para calon imam mengalami berbagai pengalaman. Ada kegembiraan ketika bersama teman-teman calon imam maupun ketika mulai melayani umat di paroki dan stasi, baik di tempat dekat maupun jauh.
“Mereka disambut dan diterima,” ujarnya.
Namun, perjalanan menjadi imam tidak selalu berjalan mudah.
Pastor Yong mengatakan para calon imam juga mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan.
Mereka dididik untuk menerima kesalahan dan terbuka terhadap teguran, termasuk teguran yang keras.
Mereka juga pernah mengalami kegagalan dan hasil studi yang tidak sesuai harapan. Bahkan, ada saat ketika mereka berada pada pergumulan rohani dan mempertimbangkan apakah jalan imamat merupakan jalan hidup mereka.
“Dan itu pergumulan yang menyiksa. Pergumulan yang membuat mereka stres dan tertekan,” katanya.
Dengan bimbingan dan doa, mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan.
“Tapi dengan banyak bimbingan, dengan banyak doa, mereka katakan, saya coba lagi. Berjalan lagi. Dan itu pengalaman manusiawi,” ungkapnya.
Pastor Yong mengatakan dinamika tersebut tidak berbeda jauh dengan kehidupan keluarga.
Ada masa penuh kegembiraan, tetapi ada pula masa ketika seseorang mengalami kekeringan dan berbagai pergumulan.
Ia kemudian mengajak para imam muda mempertanyakan kembali makna panggilan hidup mereka.
Hidup itu artinya apa? Saya mau menjadi imam untuk apa? Sanggupkah saya akan melayani? Sanggupkah saya bertahan dalam keadaan sulit?
Dalam sistem pendidikan dan pembinaan MSC, para calon imam dibiasakan hidup sederhana dan bertahan dalam situasi sulit.
Mereka juga dibentuk untuk tetap bekerja ketika menghadapi tekanan.
“Dan begitu dinamika dari kehidupan pendidikan pembinaan itu berjalan,” ujarnya.
Menurut Pastor Yong, keputusan untuk menerima tahbisan menjadi imam merupakan keputusan puncak setelah melewati perjalanan lebih dari 10 tahun.
“Saya siap untuk ditahbiskan,” katanya.
Keputusan itu diambil dengan kesadaran terhadap kelemahan dan kekurangan masing-masing.
Pastor Yong menegaskan tidak ada manusia yang sempurna, termasuk imam.
“Tidak ada suami yang sempurna, tidak ada istri yang sempurna, tidak ada anak-anak yang sempurna, tidak ada biarawan-biarawati yang sempurna. Begitu juga tidak ada calon imam yang sempurna, tidak ada imam yang sempurna,” katanya.
Dalam keterbatasan tersebut, para imam muda tetap memilih jalan imamat.
“Dan itulah sebuah puncak yang kita syukuri pada hari ini,” ujarnya.
Pastor Yong juga mengingatkan ketiga imam baru tersebut merupakan misionaris yang harus siap diutus ke mana pun.
Menurutnya, seorang imam harus siap menjalankan tugas ke mana pun pimpinan mengutusnya, termasuk ke tempat asing dengan budaya yang belum dipahami.
Ketaatan, kata dia, merupakan bagian dari panggilan seorang imam untuk pergi dan melayani.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan Pastor Yong dengan motto tahbisan RP Belly Resubun, yakni Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Lukas 1:38).
Menurut Pastor Yong, Bunda Maria setelah menerima kabar dari Malaikat juga tidak memahami seluruh hal yang akan terjadi. Namun, Maria menanggapinya dengan iman.
“Apa yang kau katakan, apa yang Tuhan katakan, terjadilah. Karena aku ini hamba Tuhan,” ujarnya.
Ia menilai motto tahbisan RP Belly Resubun menunjukkan sikap iman yang sama.
Para imam baru tersebut sebelumnya telah menjalani tahun pastoral dan tahun pastoral khusus.
Mereka juga telah bergaul dengan para imam serta belajar dari cara hidup dan pelayanan para imam. Namun, ketika itu mereka masih berstatus frater dan belum mengalami secara langsung kehidupan sebagai imam.
Situasi tersebut, menurut Pastor Yong, seperti Bunda Maria yang belum mengetahui apa yang akan terjadi dalam kehidupannya sebagai ibu Tuhan.
Namun, Maria tetap mengatakan dengan rendah hati bahwa kehendak Tuhan hendaknya terjadi.
“Inilah sikap kerendahan hati dan sekaligus sikap iman,” katanya.
Pastor Yong mengatakan ketiga imam baru tersebut juga belum mengetahui seluruh pengalaman yang akan mereka hadapi dalam perjalanan pelayanan.
“Pastor Billy akan bertugas di Kepulauan Aru. Pastor Eserai akan bertugas di Papua. Dan Pastor Yovan tidak jauh-jauh. Dia akan di Letvuan saja,” katanya.
Baik bertugas di tempat yang dekat maupun jauh, di tempat yang telah dikenal maupun belum dikenal, pengalaman sebagai imam belum pernah mereka jalani sebelumnya.
Menurut Pastor Yong, sikap iman seperti Bunda Maria sangat penting dalam menjalankan tugas pelayanan. Ia mengingatkan para imam baru akan menghadapi berbagai pengalaman dalam medan pastoral.
Karena itu, Pastor Yong mengajak seluruh umat mendukung para imam, terutama imam-imam muda yang baru ditahbiskan, melalui doa.
“Mari kita berdoa supaya imam dalam pelayanannya tetap setia, mampu mengorbankan diri untuk Tuhan dan untuk umat yang ia layani,” ujarnya.
Diketahui, RP Belly Yoakhim Resubun MSC bersama tiga rekannya, yakni RP Petrus Eki Lehalima MSC, RP Yohanes Esserey MSC, dan RP Teofilus Manunwembun MSC, sebelumnya ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Diosis Amboina Mgr. Seno Ngutra di di Gereja Stasi Bunda Hati Kudus, Desa Batlale, Kecamatan Airbuaya, Kabupaten Buru, Maluku, Sabtu (18/7/2026).
(Sumber: Kanal Youtube Diskominfo Maluku Tenggara)






































































































