LanggurNews, Namlea – Tidak banyak yang menyangka, seorang anak Kei yang lahir dan tumbuh di Bumi Bupolo, Namlea, Kabupaten Buru, Maluku, mampu menembus kerasnya persaingan bola voli nasional hingga tampil di panggung Proliga.
Dialah Pius Andreas Stephanus Janwarin. Lahir di Namlea pada 28 Januari 1974,
Pria yang akrab disapa Pius ini mengawali perjalanan sebagai atlet dari lapangan sederhana di kampung halamannya. Dari sana, ia perlahan menapaki jalan panjang: Namlea, Ambon, hingga Jakarta.
Perjalanan itu tidak selalu mulus. Ia pernah gagal masuk tim voli sekolah saat SMP. Ia juga pernah gagal dalam seleksi menuju PON. Namun, kegagalan tidak membuat anak Bumi Bupolo itu menyerah.
Justru dari berbagai kegagalan tersebut, Pius terus menempa diri hingga akhirnya memperkuat sejumlah klub, meraih gelar juara Livoli bersama Mabes TNI, tampil di Proliga bersama Jakarta Patriot, bahkan mengikuti seleksi Pelatnas.
Yang membuat perjalanan Pius semakin menarik, karier sebagai atlet dijalaninya bersamaan dengan pengabdiannya sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Pius merupakan putra pasangan Servasius Janwarin dan Petronela Welafubun. Kecintaannya terhadap bola voli tumbuh sejak duduk di bangku SMP.
Saat itu, ia memiliki satu mimpi sederhana: mengenakan seragam dan memperkuat tim voli SMP Negeri Namlea. Namun, mimpi tersebut belum terwujud. Namanya belum masuk dalam tim sekolah.
Bagi sebagian orang, kegagalan itu mungkin menjadi alasan untuk berhenti. Tetapi Pius justru menjadikannya sebagai pemacu untuk berlatih lebih keras.
Kesempatan akhirnya datang ketika ia melanjutkan pendidikan di SMA Pertiwi Namlea. Seorang guru olahraga sekaligus guru IPS yang akrab disapa Pak Rahanra (Almarhum Martinus Rahanra) memberikan kesempatan kepada para siswa yang memiliki minat terhadap bola voli untuk berlatih.
Latihan dilakukan tidak hanya ketika jam olahraga. Waktu istirahat pun dimanfaatkan untuk bermain dan berlatih voli.
Pius Janwarin, putera asli Kecamatan Kei Kecil Barat (Kabupaten Maluku Tenggara) itu menjadi salah satu siswa yang serius memanfaatkan kesempatan tersebut.
Saat duduk di kelas satu SMA, ia dipercaya memperkuat tim SMA Pertiwi Namlea dalam pertandingan tingkat Kecamatan Namlea.
Menjelang kenaikan kelas tiga, kepercayaan kembali datang. Pius memperkuat tim Kecamatan Namlea dalam kompetisi tingkat kabupaten.
Hasilnya tidak mengecewakan. Tim yang diperkuatnya berhasil keluar sebagai juara pertama. Dari situlah langkah Pius mulai semakin jauh.
Setelah menamatkan SMA, Pius mengambil keputusan besar. Ia meninggalkan Namlea dan merantau ke Ambon.
Tidak ada fasilitas mewah yang dibawanya. Tidak ada pula jaminan bahwa perjalanan tersebut akan berakhir dengan kesuksesan.
Pius hanya membawa kemampuan, keberanian, kerja keras dan keyakinan bahwa cita-citanya sebagai pemain voli layak diperjuangkan.
Di Ambon, ia mengikuti berbagai pertandingan antarklub hingga kemudian bergabung dengan Klub Yarden di Ambon, Laha, di bawah pembinaan Pak Man.
Melihat kemampuan yang dimilikinya, Pius mendapatkan kesempatan untuk berlatih dan bergabung dengan klub tanpa biaya.
Kesempatan itu dimanfaatkan sebaik mungkin. Ia berlatih dari hari ke hari dan mengikuti berbagai turnamen. Perlahan, kemampuannya mulai diperhitungkan di lingkungan bola voli Maluku.
Pius kemudian dipercaya memperkuat tim voli Provinsi Maluku dalam persiapan menuju PON. Ia menjalani pemusatan latihan di Ambon sebelum mengikuti Pra-PON di Manado pada 1992.
Di Manado, perjalanan anak Namlea itu kembali memasuki babak baru. Penampilan Pius dalam Pra-PON menarik perhatian pelatih Pelita Jaya Jakarta.
Kesempatan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kariernya. Pada Oktober 1993, Pius berangkat ke Jakarta.
Anak yang sebelumnya bermain voli di Namlea kini harus berhadapan dengan persaingan atlet di ibu kota. Pius bergabung dengan Pelita Jaya selama kurang lebih enam bulan. Namun, klub tersebut kemudian bubar.
Lagi-lagi, ia harus mencari jalan lain. Pius kemudian melanjutkan perjalanan bersama Popsivo.
Di tengah perjalanan sebagai atlet, ia juga mengikuti proses penerimaan anggota Polri dan berhasil menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia.
Sejak 1995, Pius menjalani dua tanggung jawab sekaligus: mengabdi sebagai polisi dan tetap berkarier sebagai atlet.
Perjalanan Pius juga tidak lepas dari kegagalan. Selain pernah tidak masuk tim voli saat SMP, ia kembali merasakan kegagalan ketika menekuni voli pantai.
Pada 1996, Pius dipercaya mewakili DKI Jakarta dalam Pra-PON Voli Pantai di Yogyakarta. Ia berhasil melewati tahapan Pra-PON dan mendapatkan kesempatan menuju PON. Namun, pada seleksi akhir, namanya belum berhasil masuk dalam tim yang tampil di PON.
Kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Ia kembali berlatih dan mencari kesempatan berikutnya.
Dari perjalanan tersebut, Pius belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan.

Setelah Popsivo bubar, Pius kembali melanjutkan perjalanan kariernya dengan bergabung bersama Klub Mabes TNI. Bersama klub tersebut, ia mengikuti berbagai kompetisi bola voli di Jakarta.
Salah satu pencapaian terbesar kemudian diraihnya ketika Mabes TNI tampil di Livoli.
Kerja keras dan konsistensi akhirnya membuahkan hasil. Mabes TNI berhasil menjadi juara pertama Livoli. Prestasi itu sekaligus membuka jalan Pius menuju level kompetisi yang lebih tinggi.
Kesempatan bermain di Proliga kemudian datang. Pius dipercaya memperkuat Jakarta Patriot dalam kompetisi bola voli kasta tertinggi di Indonesia tersebut.
Perjalanan panjang yang bermula dari sebuah lapangan voli di Namlea akhirnya membawa nama anak Bumi Bupolo itu ke panggung nasional.
Langkahnya bahkan berlanjut hingga mengikuti seleksi Pelatnas.
Di tengah perjalanan sebagai atlet, Pius tidak meninggalkan profesinya sebagai anggota Polri. Saat ini, ia bertugas di Polresta Tangerang, Banten, sebagai Kanit Lantas.
Bagi Pius, menjadi polisi dan atlet bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat dijalankan dengan disiplin, kerja keras dan kemampuan mengatur waktu.
Di luar tugas dan olahraga, Pius juga menjalani kehidupan keluarga bersama istrinya, Ratna Prihatin. Keduanya dikaruniai seorang anak bernama Katarina Zein Angelica Janwarin.
Perjalanan Pius Andreas Stephanus Janwarin menjadi gambaran bahwa sebuah mimpi bisa tumbuh dari tempat yang sederhana. Dari Bumi Bupolo, Namlea, ia memulai langkah kecilnya.
Ia pernah gagal masuk tim SMP. Ia pernah meninggalkan kampung halaman untuk mengejar cita-cita. Ia pernah gagal dalam seleksi PON. Tetapi setiap kegagalan justru menjadi bagian dari perjalanan yang membawanya semakin jauh.
Namlea memberinya awal. Ambon memberinya ruang untuk berkembang. Jakarta memberinya panggung untuk membuktikan kemampuan.
Hingga akhirnya, Proliga menjadi salah satu puncak perjalanan anak kelahiran Bumi Bupolo tersebut.
Kisah Pius sekaligus menjadi pesan bagi generasi muda Maluku bahwa keterbatasan daerah asal bukanlah batas bagi sebuah cita-cita.
Selama ada kemauan untuk berlatih, keberanian untuk mencoba dan keteguhan untuk bangkit dari kegagalan, mimpi yang dimulai dari kampung halaman pun bisa membawa seseorang ke panggung nasional.
“Beranilah bermimpi setinggi mungkin. Berusahalah sekuat mungkin. Berdoalah sebanyak mungkin. Karena tidak pernah ada yang tahu sejauh mana sebuah mimpi dapat membawa seseorang, selama ia tidak pernah berhenti memperjuangkannya,” pungkas Pius.






































































































