LanggurNews.com | Langgur – Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara menyiapkan sejumlah agenda untuk memeriahkan Festival Pesona Meti Kei (FPMK) Tahun 2026.
Selain mengangkat budaya bahari melalui Karnaval Budaya, festival tahun ini diarahkan untuk memberikan dampak ekonomi langsung bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara, Viktor E. B. Toffi mengatakan, Karnaval Budaya yang digelar pada Senin (19/10/2026) menjadi salah satu kegiatan pembuka dalam rangkaian FPMK 2026.
Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 60 peserta dari jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP dengan dukungan Dinas Pendidikan.
“Nuansa marine culture atau budaya bahari muncul secara total. Berbagai atribut terkait pelaksanaan meti atau mencari hasil-hasil laut ditampilkan peserta, mulai dari TK sampai SMP,” kata Kadis yang akbar disapa Budi.
Menurutnya, FPMK tidak hanya menjadi ajang promosi pariwisata dan pelestarian budaya lokal, tetapi juga harus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Karena itu, rangkaian kegiatan dibuat lebih panjang dengan melibatkan banyak peserta dan membuka peluang bagi UMKM lokal.
“Sesuai amanat Bapak Bupati, FPMK ini bukan hanya seremoni, tetapi bagaimana berdampak langsung terhadap manfaat ekonomi, khususnya bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di Kabupaten Maluku Tenggara,” ujarnya.
Setelah Karnaval Budaya, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan Lomba Goyang Meti Kei selama dua hingga tiga hari. Lomba tersebut mencakup kategori SD, SMP, remaja, dan umum dengan jumlah peserta diperkirakan mencapai 120 orang.
Selain pertunjukan budaya, FPMK 2026 juga menampilkan tradisi masyarakat Kei dalam memanfaatkan kekayaan laut. Salah satunya adalah vankurkurat, yakni tradisi memanah ikan secara tradisional yang dijadwalkan berlangsung di Ohoi Kolser.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu ciri khas tradisi meti di Kepulauan Kei, termasuk dalam pemanfaatan ikan yang hidup di wilayah perairan setempat.
Agenda berikutnya adalah werwarat, yakni kegiatan penangkapan ikan secara tradisional di Ohoi Danarsare yang melibatkan dukungan masyarakat Ohoi Elar Lamagorang.
Budi menyebut keterlibatan antardesa tersebut menjadi bentuk kolaborasi masyarakat untuk menyukseskan penyelenggaraan FPMK.
“Ini tentunya satu kolaborasi atau saling mendukung dalam menciptakan iklim yang mendorong suksesnya Festival Pesona Meti Kei,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara juga menyiapkan pertunjukan kolosal untuk acara puncak FPMK pada 24 Oktober 2026.
Dinas Pariwisata bersama panitia dan Dinas Pendidikan merencanakan penampilan sekitar 3.000 hingga 4.000 penari.
Budi mengajak masyarakat dan wisatawan untuk datang menyaksikan acara puncak tersebut.
“Kami mengimbau masyarakat untuk bersama-sama berbondong-bondong menyaksikan acara puncak FPMK,” katanya.
Di sisi lain, Viktor mengungkapkan kondisi kabut asap yang berdampak pada penerbangan turut memengaruhi kedatangan wisatawan ke Maluku Tenggara.
Menurutnya, lebih dari 100 wisatawan yang telah merencanakan perjalanan untuk menghadiri FPMK masih berada di Ambon akibat kendala penerbangan. Sebagian wisatawan mempertimbangkan alternatif perjalanan menggunakan kapal Pelni KM Labobar yang dijadwalkan tiba pada 21 Oktober 2026.
“Promosi kita besar dan banyak yang ingin datang, tetapi akhirnya tidak datang karena faktor penerbangan. Kita berdoa supaya kabut asap ini cepat berlalu,” ujarnya.
Budi menambahkan, sejumlah wisatawan mancanegara dari Inggris, Belanda, Selandia Baru, dan Australia telah hadir dalam Karnaval Budaya. Mereka merupakan bagian dari wisatawan yang datang lebih awal untuk mengikuti rangkaian kegiatan FPMK.
Sebagian wisatawan tersebut berpotensi tidak dapat mengikuti seluruh agenda karena harus kembali sesuai jadwal perjalanan masing-masing. Namun, beberapa di antaranya masih berupaya menghadiri kegiatan berikutnya.
Untuk memastikan seluruh rangkaian festival berlangsung aman, Dinas Pariwisata telah berkoordinasi dengan Polres Maluku Tenggara. Dukungan juga diberikan Satuan Polisi Pamong Praja, masyarakat, dan pemuda di lokasi penyelenggaraan kegiatan.
Viktor turut menyoroti peran CIQP sebagai salah satu unsur pendukung promosi pariwisata Maluku Tenggara, bersama pihak Bandara Karel Sadsuitubun Langgur.
CIQP adalah Customs (Bea Cukai), Immigration (Imigrasi), Quarantine (Karantina), and Port Authority (Otoritas Pelabuhan). Keempat unsur pelayanan dan pengawasan yang berkaitan dengan keluar-masuknya orang, barang, serta transportasi lintas negara termauk wisatawan.
Dukungan lintas sektor tersebut diharapkan dapat membantu kelancaran penyelenggaraan FPMK 2026 sekaligus memperkuat promosi potensi budaya, bahari, dan pariwisata Kepulauan Kei.






































































































