LanggurNews.com | Jakarta – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus mempercepat lima program unggulan sektor pariwisata nasional. Salah satu langkahnya dilakukan lewat dialog strategis yang melibatkan unsur pentahelix, mulai dari pemerintah, pelaku industri, komunitas, akademisi, hingga media.
Forum itu digelar dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kemenpar di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (21/5/2026), dengan tema Transformasi Ekosistem Kepariwisataan Nasional Menuju Pencapaian Tahun 2026.
Dalam sesi panel bertajuk Perspektif Industri dalam Kolaborasi Mendukung Akselerasi 5 Program Unggulan, berbagai pemangku kepentingan memaparkan strategi memperkuat sektor pariwisata dari sisi akses transportasi, daya saing industri hingga pengembangan desa wisata.
Direktur Sistem dan Layanan Integrasi Transportasi Antarmoda Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Amirullah, mengatakan pemerintah terus memperkuat integrasi transportasi publik demi memudahkan mobilitas wisatawan domestik maupun mancanegara.
Menurut dia, sejumlah daerah mulai menghadirkan layanan transportasi yang lebih terintegrasi dan ramah wisatawan.
“Harapannya wisatawan tidak lagi bergantung pada kendaraan pribadi. Karena itu kami mengajak seluruh pelaku industri pariwisata memastikan kendaraan wisata yang digunakan resmi dan laik jalan,” kata Amirullah.
Sementara Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Gabungan Industri Pariwisata Indonesia, Maulana Yusran, menilai penguatan ekosistem industri pariwisata harus terus dilakukan agar mampu menghadapi perubahan tren pasar dan dinamika global.
Menurutnya, inovasi model bisnis dan kolaborasi lintas pelaku usaha menjadi kunci untuk menciptakan sektor pariwisata yang kompetitif dan berkelanjutan.
Dari sisi industri, Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman, menyebut Indonesia memiliki peluang besar memperkuat posisi pariwisata di tingkat global.
Ia mengatakan persaingan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara hanya bisa dijawab lewat kolaborasi antarpemangku kepentingan.
“Ekosistem dan kolaborasi adalah rumus utama pariwisata,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, pengembangan desa wisata juga menjadi perhatian.
Vice President CSR Bank Central Asia, Nona Faletta Aryuni Sumanang, mengatakan penguatan kapasitas masyarakat menjadi fokus utama agar desa wisata tumbuh mandiri dan berkelanjutan.
Sementara Founder Desa Wisata Institute, Hannif Andy Al Anshori, menyebut jumlah desa wisata yang terdaftar di Jadesta pada 2026 mencapai 6.201 desa. Namun mayoritas masih berada di tahap rintisan.
“Masa depan pariwisata Indonesia berada di tangan desa-desa yang adaptif, berkualitas, dan berkelanjutan,” katanya.
Creative Director NAVA+, Stevie Sulaiman, menambahkan kekuatan pariwisata Indonesia bukan hanya pada keindahan alam, tetapi juga cerita dan identitas khas di tiap daerah.
Rakornas juga menghadirkan Direktorat Jenderal Imigrasi yang memaparkan kebijakan visa terbaru untuk mempermudah wisatawan masuk ke Indonesia sekaligus menjaga pengawasan lalu lintas orang lintas negara.
Lewat dialog lintas sektor itu, Kemenpar menargetkan percepatan lima program unggulan pariwisata nasional bisa berjalan lebih terarah dan berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi serta daya saing pariwisata Indonesia.






































































































