Badung-Bali, LanggurNews.com – Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyerukan pentingnya momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia sebagai tonggak penguatan kolaborasi lintas sektor dalam membangun pariwisata Indonesia yang berkualitas, bersih, dan berkelanjutan.
“Peringatan ini bukan seremoni belaka, tetapi bentuk nyata komitmen kita dalam menangani persoalan lingkungan, khususnya sampah plastik,” tegas Wamenpar dalam sambutannya di Baruna Center, Pantai Kuta, Bali, Kamis (5/6).
Acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup ini mengangkat tema global “Ending Plastic Pollution – Hentikan Polusi Plastik” dan dipusatkan di Pantai Kuta. Lebih dari 10.000 peserta ikut serta dalam apel bersama dan aksi bersih pantai yang berlangsung serentak di berbagai wilayah di Indonesia.
Menurut Ni Luh Puspa, pariwisata tak hanya soal promosi dan infrastruktur. Esensi sejatinya ada pada alam yang lestari, budaya yang hidup, dan masyarakat yang ramah—semuanya bergantung pada kualitas lingkungan.
“Tanpa lingkungan yang sehat, keindahan dan daya tarik wisata akan memudar. Ini adalah komitmen kita bersama menuju Indonesia Emas 2045, dengan menjadikan keberlanjutan sebagai fondasi,” ujarnya.
Wamenpar juga menyoroti pentingnya Gerakan Wisata Bersih, program unggulan Kementerian Pariwisata yang mengintegrasikan pengelolaan sampah di destinasi wisata, edukasi kepada wisatawan dan pelaku industri, serta dorongan terhadap energi terbarukan dan praktik pariwisata hijau.
“Kami siap terus bersinergi dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi Bali, dan seluruh daerah untuk memastikan destinasi wisata kita bersih, aman, dan nyaman,” ucapnya.
Ia juga mengapresiasi berbagai inisiatif Kementerian Lingkungan Hidup, termasuk aksi cepat tanggap terhadap fenomena sampah kiriman di pantai-pantai Bali seperti Kuta dan Kedonganan pada awal tahun ini.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menekankan bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah seruan moral dan aksi bersama dalam menghadapi tiga tantangan global: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.
“Polusi plastik menjadi simbol gaya hidup yang tidak berkelanjutan. Dunia memproduksi lebih dari 400 juta ton sampah plastik tiap tahun, namun kurang dari 10 persen yang benar-benar didaur ulang,” jelas Menteri Hanif.
Data nasional tahun 2023 mencatat Indonesia menghasilkan 56,6 juta ton sampah, dengan sekitar 10,8 juta ton (hampir 20 persen) merupakan sampah plastik. Dari jumlah tersebut, hanya 39 persen yang berhasil dikelola secara layak, sementara sisanya mencemari lingkungan.
“Termasuk Bali yang akan kembali menghadapi gelombang sampah laut. Kita harus bahu membahu menyelesaikan masalah ini, bukan hanya di Bali tapi di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Menteri Hanif juga menyampaikan bahwa Bali memiliki tanggung jawab besar sebagai wajah pariwisata Indonesia di mata dunia. Oleh karena itu, Bali diharapkan menjadi pionir dalam pembatasan plastik sekali pakai dan pelestarian lingkungan wisata.
“Pariwisata berkelanjutan bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Ini soal kesadaran dan cinta kita terhadap tanah leluhur yang begitu indah,” ujarnya.
(Biro Komunikasi Kemenpar/LanggurNews)






































































































