LanggurNews.com | Langgur – Festival Pesona Meti Kei (FPMK) kembali masuk dalam proses kurasi Karisma Event Nusantara (KEN) 2027 Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia.
Jika kembali lolos, festival unggulan Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) itu akan mencatatkan keikutsertaan tujuh kali berturut-turut dalam program nasional tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kabupaten Maluku Tenggara, Viktor E. B. Toffi, mengatakan FPMK akan kembali mengikuti tahapan kurasi pada 5 November 2026.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maluku Tenggara (Malra) melalui Dinas Pariwisata (Dispar) kini berupaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan agar FPMK dapat menembus jajaran 10 event pariwisata nasional.
“Maluku Tenggara beruntung karena sampai saat ini tahun 2026, sudah enam kali berturut-turut. Ini belum dipecahkan oleh kabupaten/kota lain di Provinsi Maluku,” kata Budi Toffi dalam wawancara di Langgur, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, target menuju 10 event prioritas nasional membutuhkan persiapan lebih matang, terutama dalam menjaga kualitas penyelenggaraan dan memenuhi berbagai indikator penilaian.
“Skalanya lebih dari KEN. Tentunya segala kualitas dan indikator harus kita jaga,” ujarnya.
Budi Toffi menyebut, rangkaian awal FPMK 2026 telah menunjukkan perkembangan positif. Karnaval Budaya dan Lomba Goyang Meti Kei yang digelar sebelumnya mendapat perhatian wisatawan nasional maupun internasional.
Kegiatan lainnya yakni tarik tali (bahasa Kei: Weer Warat) adalah metode penangkapan ikan secara tradisional yang dilaksanakan di Ohoi Danar Sare pada Kamis (22/10/2026, dihadiri langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati setempat.
Weer Warat telah membudaya dalam kehidupan masyarakat Kei dan merupakan salah satu kegiatan inti dari rangkaian kegiatan pada FPMK 2026.
Tradisi ini biasanya dilakukan pada saat Mei Kei (bahasa Kei: Met Ev) di bulan Oktober sampai November.
Hari ini, rangkaian kegiatan FPMK menampilkan tradisi masyarakat Kei dalam memanfaatkan kekayaan laut, salah satunya adalah fan kurkurat, yakni tradisi memanah ikan secara tradisional yang dijadwalkan berlangsung di Ohoi (Desa) Kolser.
Kehadiran wisatawan asing, kata Budi, menjadi salah satu indikasi bahwa atraksi budaya yang disajikan mampu menarik minat pengunjung. Pemerintah daerah pun mengingatkan seluruh pihak agar menjaga keamanan dan kenyamanan selama festival berlangsung.
“Untuk itu, mari sama-sama. Salah satu penilaian yang paling kita ingat adalah soal keamanan dan kenyamanan, karena itu akan diceritakan ke mana-mana,” katanya.
Selain kualitas atraksi, promosi dan dampak ekonomi bagi masyarakat menjadi perhatian dalam pengembangan FPMK.
Budi mengapresiasi dukungan media massa, Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Maluku Tenggara, LPP RRI, serta Telkomsel dalam mempromosikan festival tersebut.
Ia menilai promosi melalui pemberitaan, media sosial, hingga produk komunikasi perusahaan telekomunikasi dapat memperluas jangkauan informasi FPMK kepada masyarakat.
“Kartu perdana edisi Telkomsel bulan ini adalah tentang Meti Kei. Itu sesuatu yang luar biasa dan promosi ini tentunya akan menguatkan kedudukan FPMK di Karisma Event Nusantara 2027,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi salah satu aspek yang terus didorong.
Pemerintah daerah melihat pelaku UMKM mulai terlibat di sejumlah titik kegiatan dan diharapkan terus berpartisipasi hingga puncak FPMK 2026.
Menurut Budi, kekuatan FPMK tidak hanya terletak pada daya tarik wisata alam, tetapi juga pada kekayaan budaya lokal dan produk unggulan masyarakat.
Ia menegaskan, penyelenggaraan festival harus mampu memadukan kemasan acara yang menarik dengan identitas tradisional masyarakat Kei.
“Kita ingin kemewahan, tetapi tradisional harus kita tampilkan. Kita sudah tampilkan lewat kegiatan karnaval budaya dan lainnya. Mudah-mudahan ini gambaran penuh dari bagaimana kekayaan budaya dan pariwisata yang ada di Kabupaten Maluku Tenggara,” tuturnya.
Diberitakan media ini sebelumnya, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengajak pemerintah daerah mempersiapkan event unggulan untuk mengikuti kurasi KEN 2027.
Program ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan acara daerah sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Proses kurasi menilai sejumlah aspek, mulai dari ide dan inovasi, pemasaran dan strategi komunikasi, manajemen kegiatan, manajemen keuangan, hingga analisis dampak.
Berdasarkan tahapan yang diumumkan Kemenpar, seleksi wawancara dijadwalkan berlangsung pada 3–13 November 2026, dilanjutkan rapat pleno pada 1 Desember 2026. Hasil kurasi direncanakan diumumkan pada Januari 2027.
Melalui penyelenggaraan FPMK, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara berharap kekayaan alam, tradisi, dan kreativitas masyarakat Kei semakin dikenal luas sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai destinasi wisata unggulan di Indonesia.
Karisma Event Nusantara 2026 untuk Provinsi Maluku hanya dua event yang terpilih yakni Festival Pesona Meti Kei (FPMK) Kabupaten Maluku Tenggara dan Amboina International Music Fest.






































































































