LanggurNews.com | Langgur – Peringatan 84 tahun kemartiran Mgr. Johannes Aerts dan kawan-kawan di Tanah Kei menjadi momentum bagi umat Katolik untuk memperbarui iman.
Pastor Albertus Jamlean MSC mengingatkan agar umat tidak sekadar mengenang jasa para martir, tetapi juga menjadi martir putih yang menghadirkan kasih, pengampunan, dan teladan hidup di tengah masyarakat.
Pesan itu disampaikan misionaris MSC yang akrab disapa Pastor Alo Jamlean dalam homilinya pada Perayaan Ekaristi Kudus mengenang 84 tahun Peristiwa Kemartiran Mgr. Johannes Aerts MSC dan kawan-kawan yang dipusatkan di Taman Ziarah Mgr. Johannes Aerts MSC dan Kawan-kawan, Langgur, Kamis (30/7/2026).
“Setiap tanggal 30 Juli kita semua pasti ingat. Tentu kita tidak menyaksikan sendiri peristiwa itu, tetapi kenangan itu terus memperbarui perasaan kita,” kata Pastor Alo.
Ia kemudian mengenang almarhum Uskup Andreas Sol yang semasa hidupnya selalu menyebut Langgur sebagai Langgur yang mulia.
Menurutnya, kemuliaan itu bukan hanya dimiliki Langgur, tetapi seluruh Tanah Kei karena telah menjadi tempat lahirnya benih iman melalui pengorbanan para martir.
“ Langgur yang mulia, bahkan saya pikir bukan hanya Langgur tetapi juga Kei yang mulia, karena di tanah ini telah terjadi peristiwa tragis yang membawa kehidupan,” ujarnya.
Pastor Alo mengutip ungkapan Bapa Gereja Tertullian, Sanguis martyrum, semen christianorum atau (darah para martir adalah benih Gereja).
“Saya percaya kata-kata itu menjadi kenyataan di Tanah Kei ini,” katanya.
Ia menjelaskan, wilayah Kei pada masa lalu awalnya dilayani para imam Yesuit. Namun karena luasnya wilayah pelayanan, misi tersebut kemudian dipercayakan kepada para misionaris MSC.
Meski dikenal sebagai tanah berbatu dan keras, menurut Pastor Alo, Tanah Kei justru menjadi subur bagi perkembangan iman karena disiram oleh darah para martir.
“Di tanah ini telah disirami darah para martir, yakni Uskup Johannes Aerts, lima imam, dan delapan bruder,” ujarnya.
Ia mengatakan, peringatan kemartiran bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan membangkitkan kembali semangat iman umat agar terus bertumbuh.
Pastor Alo juga mengingatkan bahwa tantangan iman saat ini semakin besar. Karena itu umat tidak cukup hanya berbangga memiliki sejarah para martir.
“Kita tidak hanya bangga karena ada martir yang mati di sini, tetapi kita juga harus mau menyatakan bahwa saya juga ingin menjadi martir,” tegasnya.
Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah menjadi martir putih, yakni orang-orang yang memberikan kesaksian iman melalui kehidupan sehari-hari tanpa harus menumpahkan darah.
“Kita semua harus membuktikan bahwa kita ini martir yang hidup, martir putih. Hidup kita sendiri harus menjadi kesaksian karena martir adalah saksi yang memberikan kesaksian,” katanya.
Ia menegaskan bahwa iman tidak boleh berhenti pada kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Iman itu harus membumi, harus berbuah dalam kebaikan, mengubah pikiran, hati, dan perilaku kita,” ujarnya.
Di akhir homilinya, Pastor Alo mengajak seluruh umat untuk menjaga warisan para misionaris yang telah mengorbankan hidup mereka demi perkembangan Gereja di Tanah Kei.
“Iman harus berbuah dalam kasih, pengampunan, dan kebaikan. Tanpa itu iman menjadi sia-sia dan tidak mempunyai dampak,” katanya.
Ia berharap peringatan 84 tahun kemartiran Mgr. Johannes Aerts MSC dan kawan-kawan menjadi kesempatan bagi umat untuk memperbarui hati dan menjadi penebar kasih di Tanah Kei.
“Kita berkata, Tuhan bentuklah hatiku seperti hati-Mu. Semoga kita semakin menaburkan kasih, belas kasih, dan pengampunan sebagaimana telah diwariskan oleh para misionaris pendahulu kita,” tutup Pastor Alo.






































































































