Langgur, LanggurNews.com – Penyelesaian pembangunan jembatan Dian Pulau-Tetoat Kecamatan Hoat Sorbay, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), saat ini jadi fokus utama Pemerintah Kabupaten setempat.
Jembatan dengan panjang bentangan 120 meter itu, pembangunannya telah memakan waktu lama dan biaya yang fantastis nilainya.
Tidak sampai disitu saja. Sejumlah persoalan terus-menerus bermunculan untuk menghambat penyelesaian pembangunannya.
Rezim (pemerintahan) terus berganti, namun belum mampu menjawab impian dan kerinduan masyarakat yang berada di wilayah pesisir barat Kei Kecil untuk memiliki
jembatan tersebut.
Teranyar, pembangunan jembatan itu harus terhenti pada tanggal 24 Desember 2024 lalu karena dipasang sasi adat (hawear).
Persoalan pemasangan sasi tersebut akhirnya terselesaikan.
Pemkab Malra melalui Plh Sekda setempat Nurjanah Yunus, turun langsung ke lapangan untuk menyelesaikannya.
Melalui pendekatan persuasif dan kekeluargaan dengan pihak-pihak, sasi tersebut dapat dilepaskan. Pekerjaan pun dilanjutkan.
Saat ini, pembangunan jembatan Dian Pulau-Tetoat telah memasuki pekerjaan pengecoran.
Kegiatan pengecoran pun dipantau langsung oleh Plh. Sekda, saat meninjau aktivitas pembangunan jembatan itu pada hari Minggu (29/12/2024).
Kepada wartawan di lokasi pembangunan, Nurjanah Yunus mengatakan, peninjauan yang dilakukan untuk memastikan aktivitas pengecoran berjalan dengan baik.
Pengecoran dilakukan oleh warga dari dua ohoi (desa) yakni Dian Pulau dan Tetoat.
“Dengan progres tadi, saya yakin 3-4 hari sudah bisa selesai,” kata Plh Sekda.
Pekerjaan tahun ini, lanjut Nurjanah Yunus, hanya sebatas pada pengecoran plat lantai jembatan.
Untuk itu, ia meminta Pemerintah Provinsi Maluku untuk membangun jalan hotmix Dian Pulau-Tetoat tahun depan.
Menurut Ana Yunus, kehadiran jembatan ini dapat memberikan dampak ganda terhadap peningkatan ekonomi masyarakat Malra, terutama masyarakat di pesisir barat Kei Kecil.
“Masyarakat Maluku Tenggara akan sangat berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat. Kami akan menjaga dengan baik jembatan ini karena posisinya sangat strategis dalam membantu masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Manajemen Konsultan Pembangunan Jembatan Dian Pulau-Tetoat, Abdurahim, menjelaskan, pembangunan jembatan tersebut melibatkan ratusan warga dari Ohoi Dian Pulau dan Tetoat.
“Mereka bekerja dalam tiga shift. Setiap shift, melibatkan 60 pekerja dari kedua ohoi itu,” ujarnya.
“Lebar jembatan 9 meter, dan panjang 120 meter. Pekerja dari masing-masing ohoi melakukan pengecoran lantai jembatan sepanjang 60 meter,” kata Abdurahim menambahkan.
Menurutnya, proses pengecoran lantai jembatan diprediksi rampung paling lama lima hari kerja.
Meskipun pembangunan jembatan tahun ini hanya sampai tahapan pengecoran lantai dasar dan belum ada pengaspalan, masyarakat sudah dapat menggunakan jembatan tersebut awal Januari tahun 2025.
“Kalau motor bisa lewat, tetapi kendaraan (roda empat) belum bisa. Menurut rancangan, daya tahan jembatan ini bisa bertahan sampai 50 tahun,” terang Abdurahim.






































































































