Ohoidertawun-Malra, LanggurNews.com | Manoa Kei, ruang hospitalitas budaya yang berlokasi di Ohoidertawun, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, menjadi tuan rumah kedatangan pendayung samudra dan penjelajah asal Swiss, Louis Margot, Sabtu (7/2/2026).
Kedatangan Margot merupakan bagian dari proyek Human Impulse, sebuah perjalanan keliling dunia yang sepenuhnya digerakkan oleh tenaga manusia tanpa mesin maupun bantuan mekanis.
Agenda kunjungan diawali dengan konferensi pers yang dijadwalkan berlangsung pukul 14.00–16.00 WIT dan dihadiri jurnalis serta perwakilan media.
Dalam konferensi pers dengan jurnalis, pihak penyelenggara memaparkan latar belakang perjalanan Human Impulse, alasan persinggahan di Kepulauan Kei, serta rangkaian kegiatan budaya yang menyertai kunjungan Margot.
Louis Margot dikenal sebagai mantan Juara Dunia Junior Dayung yang saat ini tengah menempuh perjalanan hampir 40.000 kilometer dengan target melampaui rekor dunia perjalanan manusia non-mekanis tercepat yang saat ini berdurasi 5 tahun 11 hari.
Ia telah menyeberangi Samudra Atlantik sejauh sekitar 5.000 kilometer seorang diri, serta menyelesaikan tantangan terberat berupa penyeberangan Samudra Pasifik lebih dari 11.000 kilometer selama lebih dari 250 hari berturut-turut di laut.
Dalam perjalanannya, Margot menjalani aktivitas fisik harian selama 8 hingga 14 jam dan hidup dalam kemandirian penuh di atas samudra selama lebih dari 300 hari.
Persinggahannya di Kepulauan Kei mengikuti koridor angin dan arus laut musiman yang secara historis telah digunakan oleh para pelaut Austronesia selama berabad-abad.
Angin, arus, dan navigasi berbasis alam menjadi penghubung antara eksplorasi modern dan pengetahuan maritim leluhur.
Penyelenggara menilai kehadiran Margot di Kei bukan sekadar persinggahan atlet ekstrem, melainkan momentum budaya yang menegaskan kembali posisi Kepulauan Kei sebagai simpul jalur laut kuno di kawasan timur Nusantara.
Selain konferensi pers, agenda kegiatan juga mencakup peluncuran dua perahu bercadik tradisional ke laut serta malam budaya yang menghadirkan lebih dari 30 musisi dan penjaga budaya dari berbagai wilayah di Kepulauan Kei.
Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang refleksi atas praktik perjalanan dan pariwisata berkelanjutan, dengan menekankan penghormatan terhadap alam, budaya lokal, serta etika bertamu.
Melalui Human Impulse, Louis Margot menyampaikan pesan bahwa perjalanan sejati bukan semata soal jarak dan kecepatan, melainkan tentang hubungan manusia dengan alam dan sesama.






































































































