LanggurNews.com | Lombok Tengah – Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana meninjau Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang terdampak kebakaran.
Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah pemulihan hingga rekonstruksi kawasan dengan tetap mempertahankan karakter tradisional Sasak.
Widiyanti datang ke Desa Adat Sade pada Kamis (27/8/2026). Dia bertemu masyarakat, termasuk ibu-ibu penenun dan kepala desa, untuk mendengar langsung kondisi serta kebutuhan warga setelah kebakaran.
“Hari ini saya datang ke Sade untuk hadir bersama masyarakat dan bertemu langsung dengan mereka, mulai dari ibu-ibu penenun hingga kepala desa. Saya ingin mendengar keluhan dan kebutuhan mereka,” kata Widiyanti.
Menurut Widiyanti, dampak kebakaran tidak hanya berupa kerusakan bangunan. Aktivitas ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada pariwisata juga ikut terganggu.
Rumah tradisional di Desa Adat Sade, kata dia, memiliki fungsi lebih dari sekadar tempat tinggal. Bangunan tersebut juga menjadi tempat masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi sekaligus bagian dari identitas budaya Sasak.
“Proses pemulihan Desa Adat Sade perlu dilakukan secara menyeluruh dengan tidak hanya memperhatikan pembangunan kembali secara fisik, tetapi juga keberlanjutan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Data sementara per 27 Agustus 2026 mencatat 189 kepala keluarga dan 320 pelaku pariwisata di Desa Adat Sade terdampak kebakaran.
Bangunan yang terdampak terdiri atas 75 rumah adat, 69 artshop, 8 lumbung alang, 1 menara pantau, 4 berugak sekenam, 6 berugak sakepat, serta 1 Bale Beleq atau museum.
Kementerian Pariwisata kemudian menggelar rapat koordinasi bersama Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, Forkopimda, Politeknik Pariwisata Lombok, mitra, dan pemangku kepentingan pariwisata.
Rapat tersebut membahas langkah pemulihan Desa Adat Sade untuk jangka pendek, menengah, dan panjang.
Untuk jangka panjang, pemerintah akan membentuk tim kerja lintas kementerian/lembaga, pemerintah daerah, mitra, dan masyarakat adat.
Tim tersebut akan melakukan pendataan terhadap masyarakat dan pekerja yang terdampak agar bantuan dapat disalurkan lebih terarah.
Pemerintah juga merencanakan satu akun donasi untuk menghimpun dana rekonstruksi Desa Adat Sade.
Selain itu, akan disusun master plan rekonstruksi dengan melibatkan masyarakat adat. Rencana pembangunan tersebut ditujukan agar rumah dan fasilitas yang dibangun kembali tetap mempertahankan karakter serta identitas Sade.
“Bagaimana teknologi yang ada sekarang bisa dimanfaatkan sehingga tersedia infrastruktur keselamatan dan bisa menjadi contoh bagi desa-desa adat lainnya,” kata Widiyanti.
Dalam rekonstruksi, pemerintah juga akan memperhatikan sistem proteksi kebakaran. Rencananya, APAR komunal ditempatkan di sejumlah titik dengan desain yang tetap menyatu dengan estetika kawasan.
Pemerintah juga mempertimbangkan pembangunan embung atau penampungan air darurat di sekitar kawasan Desa Adat Sade.
Infrastruktur dasar seperti sanitasi, pengelolaan sampah, dan amenitas juga akan menjadi bagian dari pembangunan kembali.
Untuk penanganan jangka pendek, pemerintah menyiapkan stok makanan, dapur umum, dan bantuan logistik bagi warga terdampak.
Kementerian Pariwisata melalui Politeknik Pariwisata Lombok bekerja sama dengan BNPB, TNI/Polri, dan PMI dalam penanganan masa tanggap darurat.
Pemerintah juga akan menjalankan program trauma healing, terutama bagi anak-anak korban kebakaran.
Selain itu, warga dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) akan mendapatkan bimbingan teknis terkait prosedur tanggap darurat dan evakuasi wisatawan.
Kementerian Pariwisata juga memberikan bantuan alat tenun kepada masyarakat. Bantuan itu diharapkan dapat membantu warga kembali menjalankan aktivitas ekonomi.
Pendampingan usaha juga akan dilakukan, termasuk dukungan modal kerja, fasilitas alat menenun, serta penyediaan lokasi sementara untuk kegiatan ekonomi masyarakat.
Pemerintah turut merencanakan pembangunan museum sementara dan masjid di kawasan Desa Adat Sade.
Museum akan digunakan untuk memperkenalkan sejarah dan budaya masyarakat Sasak kepada wisatawan. Sedangkan masjid disiapkan sebagai fasilitas ibadah bagi masyarakat dan wisatawan Muslim.
Pembangunan fasilitas tersebut ditargetkan selesai sebelum periode peak season, termasuk momentum MotoGP Mandalika.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan kunjungan Menpar menjadi bagian penting dalam menentukan arah pemulihan Desa Adat Sade.
“Ibu Menteri tadi sudah mengarahkan fondasi bagi kita untuk mulai berpikir jangka menengah dan jangka panjang, yaitu ke arah rekonstruksi untuk membangun Sade,” kata Iqbal.
Sementara warga Desa Adat Sade, Amak Pani, mengatakan aktivitas pariwisata masyarakat terhenti akibat kebakaran. Dia berharap dukungan pemerintah dan para donatur dapat mempercepat pembangunan kembali.
Amak Pani memastikan pembangunan rumah adat nantinya tetap mempertahankan bentuk dan nilai tradisional masyarakat Sasak.
“Jadi kami tidak akan menghilangkan nilai tradisional dari bentuk rumah kami di sini,” ujarnya.
Menpar Widiyanti menegaskan masyarakat harus dilibatkan dalam seluruh proses pemulihan. Pemerintah menargetkan Desa Adat Sade tidak hanya kembali seperti sebelum kebakaran, tetapi juga memiliki sistem yang lebih tangguh untuk menghadapi risiko di masa mendatang.






































































































