LanggurNews.com | Depok – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Dante Saksono Harbuwono menegaskan pembangunan kesehatan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 tak bisa hanya mengandalkan pelayanan kuratif atau pengobatan.
Penguatan upaya promotif dan preventif dinilai menjadi kunci.
Hal itu disampaikan Dante saat menjadi keynote speaker Dies Natalis ke-61 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia di Depok, Rabu (29/7/2026).
Dies Natalis tersebut mengusung tema “FKM Bertumbuh: Sehat Utuh dan Masyarakat Tangguh”.
Dante mengatakan sebagian besar persoalan kesehatan masyarakat dipengaruhi faktor di luar layanan kesehatan.
“Kalau kita petakan masalah kesehatan menuju tahun 2045, layanan kesehatan hanya berkontribusi sekitar 20 persen. Selebihnya ditentukan oleh gaya hidup, kondisi sosial ekonomi, dan lingkungan,” ujar Dante.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin, peneliti, dan penyusun kebijakan di bidang kesehatan masyarakat. Kebijakan yang dibuat juga harus didasarkan pada bukti ilmiah atau evidence-based policy.
Dante mencontohkan sejumlah tantangan yang masih dihadapi Indonesia, mulai dari tingginya jumlah perokok usia muda, rendahnya aktivitas fisik, meningkatnya gangguan kesehatan mental pada remaja, kemiskinan, stunting, urbanisasi hingga perubahan iklim.
“Masalah-masalah tersebut tidak bisa diselesaikan hanya melalui pengobatan. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi lintas sektor dan policy brief yang kuat sebagai dasar pengambilan keputusan,” katanya.
Dante menyebut institusi pendidikan kesehatan masyarakat memiliki tiga peran strategis dalam mendukung pembangunan kesehatan nasional.
Pertama, mencetak lulusan yang memiliki kemampuan kepemimpinan, analisis data, serta mampu mengeksekusi solusi kesehatan di lapangan.
“Kita membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujarnya.
Kedua, institusi pendidikan kesehatan masyarakat diharapkan menjadi mitra pemerintah dalam pelaksanaan transformasi kesehatan dan berbagai program prioritas nasional. Salah satunya melalui rekomendasi kebijakan yang berbasis ilmu pengetahuan.
Ketiga, memperkuat kolaborasi internasional untuk mendorong kebijakan kesehatan global yang tetap berpihak pada kepentingan Indonesia. Kolaborasi tersebut juga dinilai dapat membuka peluang pendanaan dan kerja sama riset.
Dante turut menyoroti kontribusi lulusan kesehatan masyarakat dalam organisasi kesehatan dunia. Menurutnya, sejumlah tokoh dengan latar belakang kesehatan masyarakat telah memimpin organisasi seperti WHO, GAVI, UNICEF, World Bank hingga Global Fund.
“Mereka menunjukkan bahwa perubahan besar dalam kesehatan masyarakat lahir dari kebijakan yang tepat,” katanya.
Ia pun mengajak mahasiswa kesehatan masyarakat menjadi agen perubahan. Alumni juga didorong terus berkarya dan memberikan kontribusi bagi bangsa.
“Bagi Alfred Sommer, public health adalah saving lives, millions at a time. Itulah esensi kesehatan masyarakat: menyelamatkan jutaan nyawa melalui kebijakan dan pencegahan,” tutur Dante.
Sementara itu, Dekan FKM UI Prof Indri Hapsari Susilowati mengatakan tema Dies Natalis ke-61 menegaskan bahwa kesehatan tidak hanya dimaknai sebagai kondisi bebas dari penyakit.
Menurutnya, kesehatan juga harus dipahami sebagai kondisi yang utuh sehingga mampu membentuk masyarakat yang tangguh, adaptif, dan resilien menghadapi berbagai tantangan.
“Usia ke-61 menjadi momentum bagi FKM UI untuk terus bertumbuh dan memberikan dampak yang lebih luas bagi kesehatan Indonesia maupun dunia,” ujar Indri.
Rektor UI Prof Heri Hermansyah menambahkan FKM UI telah menjadi salah satu pilar pembangunan kesehatan nasional melalui kontribusi alumninya di berbagai daerah, dunia industri, hingga penyusunan kebijakan publik.
Heri berharap FKM UI terus memperkuat kepemimpinan di bidang kesehatan masyarakat serta menghasilkan inovasi dan rekomendasi kebijakan yang memberikan dampak luas.
“FKM UI memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kepemimpinan public health Indonesia, bahkan dunia, melalui riset, inovasi, dan kebijakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Heri.






































































































